Bagaimana Konsep Dagang Nabi Muhammad Menurut MUI?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memadati Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 April 2021. Pasar Tanah Abang mulai dipadati warga untuk berbelanja berbagai kebutuhan Ramadhan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Warga memadati Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 April 2021. Pasar Tanah Abang mulai dipadati warga untuk berbelanja berbagai kebutuhan Ramadhan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia atau MUI, Anwar Abbas, menjelaskan tentang konsep dagang ala Nabi Muhammad SAW yang disebut-sebut relevan dengan bisnis modern. Konsep itu mengandalkan dialog, kejujuran, dan sisi humanisme.

    “Di antara cara beliau menjual barang, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada para calon pembeli berapa (harga) barang yang dibawa dari Mekkah dan dijual di Syam serta berapa mereka (pembeli) mau membayar barang  itu,” tutur Anwar saat dihubungi pada Ahad, 18 April 2021.

    Anwar mengatakan konsep ini menarik perhatian lantaran ada keterbukaan informasi kepada pembeli. Sementara itu dalam bisnis modern, produsen telah menghitung biaya tetap dan biaya variabel untuk menentukan total ongkos produksi.

    Dari angka tersebut, produsen mengambil margin 5-10 persen untuk menetapkan keuntungan serta harga jualnya yang sudah dapat dihitung oleh konsumen. Selain ihwal harga, Anwar mengatakan Nabi Muhammad menyampaikan kondisi barang yang ia jual dengan sebenar-benarnya kepada pelanggan. Jika terdapat barang cacat, penjual tidak berusaha menutup-nutupi.

    Prinsip kejujuran ini, tutur dia, menjadi kunci utama bagi pemimpin untuk memajukan perusahaannya--seperti yang tertuang dalam penelitian terhadap seribu CEO terkemuka di dunia. Sebab dengan prinsip kejujuran, konsumen bakal merasa puas dan aman untuk berbelanja.

    Tak hanya itu, pelanggan juga merasa dihargai. Walhasil, kata Anwar, cara itu bisa membentuk loyality of customer atau loyalitas konsumen.

    “Kalau pelanggan itu sudah loyal dan percaya, biasanya mereka tidak akan pindah-pindah untuk berbelanja kepada orang lain, “ ujar Anwar.

    Selanjutnya, Anwar mengungkapkan prinsip berdagang Nabi Muhammad yang mengandalkan diskusi sehingga kontak pedagang dan pembeli terjadi. Dengan adanya kontak dua arah, kegiatan berdagang tidak hanya berorientasi kepada profit.

    Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan bisnis Nabi Muhammad SAW patut ditiru oleh para santri. Ia menyampaikan pendapat itu saat mengisi acara Milad 9 Tahun Pesantren Motivasi Indonesia yang berlangsung secara virtual, Ahad, 28 Februari 2021.

    Mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta agar omongannya tidak dipersoalkan di kemudian hari. "Nanti dibilang saya menafsir-nafsirkan nabi, ribut lagi nanti. Saya mohon-mohon maaf ini, saya bikin disclaimer dulu ini," katanya dalam sebuah tayangan di YouTube.

    Ahok mengatakan pada masa lalu, Nabi Muhammad tidak hanya berdakwah, tapi juga berdagang. "Ini mohon jangan jadi masalah, saya berpikir Nabi Muhammad dulu juga bukan cuma dakwah ya, beliau juga dagang gitu," tutur Ahok.

    Baca: Pendapat Ahok Soal Konsep Bisnis Nabi Muhammad: Fairness, Profit, Simple


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.