Tiga Perusahaan di Balik Megaproyek Bukit Algoritma 'Silicon Valley'

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penandatanganan kontrak Pekerjaan Pengembangan Rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi yang diberi nama Bukit Algoritma antara BUMN Amarta Karya dengan Kiniku Bintang Raya. - amka.co.id

    Penandatanganan kontrak Pekerjaan Pengembangan Rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi yang diberi nama Bukit Algoritma antara BUMN Amarta Karya dengan Kiniku Bintang Raya. - amka.co.id

    TEMPO.CO, Jakarta – Tiga perusahaan akan menjadi pengendali di balik pembangunan Bukit Algoritma di kawasan Cibadak dan Cikidang, Sukabumi. Bukit Algoritma adalah pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 yang dimimpikan menjadi Silicon Valley ala Jawa Barat.

    Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Kiniku Nusa Kreasi, PT Bintang Raya Lokalestari, dan PT Amarta Karya. Kiniku Nusa Kreasi dan Bintang Raya Lokalestari—keduanya tercatat sebagai perusahaan swasta yang menjadi inisiator pembangunan Bukit Algoritma.

    Kiniku Nusa Kreasi merupakan perusahaan penyedia solusi teknologi dan komunikasi yang berdiri sejak tiga tahun lalu. Dalam dokumen permintaan sertifikasi elektronik tertarikh 1 April 2019, tertulis bahwa CEO Kiniku Nusa Kreasi adalah Tedy Tri Tjahjono. Tedy juga merupakan Sekretaris Gerakan Inovator 4.0, sebuah gerakan inovasi yang didirikan oleh politikus PDIP sekaligus Komisaris PTPN V, Budiman Sudjatmiko.

    Kiniku kemudian membangun kerja sama operasi atau KSO dengan Bintang Raya Lokalestari. Bintang Raya Lokalestari yang saat ini dipimpin Dhanny Handoko sebagai direktur utama merupakan perusahaan pemilik lahan perkebunan seluas 888 hektare. Lahan inilah yang akan menjadi cikal-bakal kawasan Bukit Algoritma. Status lahan tersebut telah berubah dari hak guna usaha atau HGU menjadi hak guna bangunan atau HGB.

    Dari kerja sama ini, Kiniku Nusa Kreasi dan Bintang Raya Lokalestari membentuk KSO bernama Kiniku Bintang Raya. Kongsi dua perusahaan menunjuk Budiman Sudjatmiko sebagai Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO.

    Pada 7 April 2021, Kiniki Bintang Raya KSO menunjuk Amarta Karya alias AMKA, yakni perusahaan badan usaha pelat merah atau BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. AMKA memiliki tugas membangun area yang sedang diusulkan sebagai  kawasan ekonomi khusus atau KEK tersebut.

    “Kami menunjuk AMKA sebagai main contractor,” ujar Budiman Sudjatmiko saat dihubungi Tempo, Senin, 12 April lalu. AMKA juga bertanggung jawab dari sisi desain kawasan. Budiman mengklaim pada Mei mendatang, kawasan bakal Bukit Algoritma sudah memasuki tahap ground breaking.

    Dalam peta pembangunannya, proyek Bukit Algoritma akan dikembangkan dalam tiga fase. Pembangunan fase pertama ditargetkan selesai selama tiga tahun. Pada fase ini, kontraktor akan menyelesaikan pembangunan pusat sains, theme park, pusat kesehatan, pusat pertanian untuk makanan dan gizi pusat kebugaran, serta plaza inovasi.

    Salah satu negara dari Amerika Utara disebut-sebut sudah berkomitmen menanamkan modal untuk pembangunan Bukit Algoritma dengan nilai investasi yang ditawarkan sebesar Rp 18 triliun atau setara dengan 1 miliar euro. “Nilai yang ditawarkan dapat ditingkatkan sesuai dengan pengembangan ekosistem value chain keseluruhan yang sedang kami jalankan bertahap,” kata Budiman.

    Negara lain dari Asia juga diklaim sudah berminat menjadi investor dengan nilai modal 200 juta euro. Negara itu akan mengembangkan tenan dan alih teknologi saat kawasan Bukit Algoritma sudah beroperasi.

    Baca Juga: Terpopuler Bisnis: Bantuan UMKM Rp 1,2 Juta dan THR 2021 Wajib Dibayar Pengusaha


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.