Terimbas Corona, 10.206 Nasabah Dapat Pelonggaran Kredit dari OJK

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo OJK. wikipedia.org

    Logo OJK. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menyatakan sebanyak 10.206 nasabah perusahaan pembiayaan yang terdampak oleh virus Corona atau Covid-19 telah mendapatkan kemudahan dalam pembayaran kredit atau pembiayaan.

    "Jumlah pengajuan restrukturisasi per 31 Maret mencapai 11.235 permohonan, dari jumlah itu, sebanyak 10.206 debitur confirm mendapatkan restrukturisasi," kata Riswinandi di Jakarta, Rabu, 8 April 2020.

    Program relaksasi ini, kata Riswinandi, merupakan bagian dari program restrukturisasi kredit atau pembiayaan yang dirumuskan pemerintah untuk membantu nasabah terdampak Covid-19.

    Riswinandi menjelaskan, sebanyak 138 perusahaan pembiayaan telah melapor dan berkomitmen kepada OJK untuk terlibat dalam program tersebut. Dari 138 perusahaan pembiayaan itu, sebanyak 79 di antaranya siap untuk melakukan restrukturisasi kredit kepada para nasabah mereka.

    "Dari 79 itu, sebanyak 14 perusahaan pembiayaan sudah melakukan pengajuan restrukturisasi terhadap nasabah yang terdampak COVID-19," ujar Riswinandi.

    OJK sebelumnya menerbitkan Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2020 mengenai stimulus perekonomian nasional sebagai kebijakan countercyclical dampak penyebaran Covid-19 yang merupakan turunan dari Perpu Nomor 1 Tahun 2020.

    Di dalam POJK itu disebutkan perbankan dan lembaga pembiayaan dapat menerapkan kebijakan stimulus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan stimulus untuk mendukung pertumbuhan dilakukan dengan melakukan penetapan kualitas aset serta melaksanakan restrukturisasi kredit atau pembiayaan bagi debitur terdampak virus Corona.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).