IHSG Hari Ini Dibuka Terkoreksi ke Level 6.110,22

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melorot lebih dari 1 persen pada awal perdagangan hari ini. Hal ini terjadi di tengah pelemahan bursa global.

    Data Bloomberg memperlihatkan IHSG dibuka terkoreksi 0,37 persen atau 22,99 poin di level 6.110,22. Kemudian pada pukul 09.06 WIB, indeks bergerak ke level 6.069,6 dengan koreksi tajam 63,6 poin atau 1,04 persen pada pukul 09.06 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

    Pada perdagangan kemarin, IHSG menutup pergerakannya di level 6.133,21 atau anjlok 1,78 persen atau 110,9 poin, penurunan hari kedua berturut-turut sejak 24 Januari 2020. Seluruh sembilan sektor terpantau bergerak di zona merah pada pagi hari ini, dipimpin pertanian (-2,84 persen), industri dasar (-1,58 persen), dan barang konsumsi (-1,35 persen).

    Sementara itu, sebanyak 29 saham melemah dan 646 saham stagnan dari 675 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing turun 1,51 persen dan 0,97 persen menjadi penekan utama atas pelemahan IHSG.

    Adapun kurs rupiah lanjut melemah 28 poin atau 0,21 persen ke level Rp 13.643 per dolar AS pukul 09.04 WIB. Pada Senin kemarin rupiah berakhir terdepresiasi 0,24 persen atau 32 poin di posisi Rp 13.615 per dolar AS.

    Pada perdagangan Asia, aktivitas perdagangan saham beberapa negara di kawasan ini masih ditutup karena libur Tahun Baru Imlek. Namun, indeks saham negara lain yang telah dibuka memperlihatkan tekanan serupa.

    Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang terpantau melemah 0,88 persen dan 0,99 persen masing-masing pagi ini. Indeks Kospi Korea Selatan dan FTSE Straits Times Singapura bahkan anjlok 2,89 persen dan 2,45 persen masing-masing.

    Pada perdagangan Senin (27/1/2020), bursa AS ditutup turun tajam, dengan Dow Jones (-1,57 persen), S&P (-1,57 persen), dan Nasdaq (-1,89 persen). Kekhawatiran pasar mengenai penyebaran Virus Corona menjadi salah satu penyebab penurunan bursa.

    Beberapa saham AS yang berkaitan dengan pasar China pun mengalami penurunan cukup signifikan dalam 10 hari terakhir di antaranya saham Estee Lauder (-10,4 persen), Marriot (-8,2 persen), dan Starbucks (-4,1 persen).

    Sentimen negatif lainnya datang dari rilis data penjualan rumah baru bulan Desember 2019 di AS sebesar 694 ribu unit, yang lebih rendah dari 697 ribu unit pada November dan lebih rendah dari perkiraan konsensus sebesar 730 ribu unit. 

    “Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan IHSG akan bergerak melemah mengikuti  pasar AS dan regional yang masih tertekan,” tulis Samuel Sekuritas dalam publikasi riset hariannya, Selasa, 28 Januari 2020.

    Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada keputusan bank sentral AS The Fed mengenai kebijakan arah suku bunga AS yang akan dirilis pada Kamis (30/1/2020) dini hari WIB.

    Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi, memperkirakan IHSG masih bisa bergerak menanjak pada pekan ini. Secara teknikal, pergerakan IHSG berada pada target double top yakni di kisaran 6.150.

    Di sisi lain, indikator stochastic bergerak semakin jenuh pada area jenuh jual sejalan dengan momentum indikator RSI yang bergerak sangat rendah. Lanjar menilai pergerakan secara teknikal tersebut membuka peluang rebound sehingga IHSG mampu kembali melaju ke atas 6.150. 

    Dengan proyeksi secara teknikal, dia memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini berada di titik support dan resistensi yakni 6.120 hingga 6.200. Atas proyeksi tersebut, dia merekomendasikan saham beberapa emiten seperti UNVR, INCO, TOWR, TBIG, SIMP dan SMRA guna memanfaatkan momentum.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.