2019, Belanja Iklan di Media Digital Naik Lebih dari 20 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi berbagi foto kuliner di media sosial. Digitalcoco.com

    Ilustrasi berbagi foto kuliner di media sosial. Digitalcoco.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Belanja iklan pelaku usaha melalui media digital sudah berada di kisaran 20%, dan diperkirakan masih akan lebih tinggi pada tahun depan.

    Ketua Pengembangan Interen Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Janoe Arijanto mengatakan belanja iklan melalui media digital masih akan meningkat, didorong oleh semakin baiknya infrastruktur internet, dan semakin siapnya platform media digital dalam menjawab kebutuhan iklan pelaku usaha.

    Baca: KPI Larang 11 Stasiun Televisi Tayangkan Iklan Shopee Blackpink

    "Pada 2013 itu belanja iklan media digital masih di bawah 5%, tetapi saat ini sudah meningkat 15 hingga 20%. Bahkan,sebagian pelaku usaha kecil menengah sudah menyalurkan 100% belanja iklannya melalui media digital," katanya kepada Bisnis, Jumat 14 Desember 2018.

    Janoe mengatakan, pemerintah memperbaiki infrastruktur internet Indonesia cukup baik. Bahkan, di beberapa kota besar sudah memiliki kecepatan internet telepon genggam diatas 20 Mbps.

    "Ini merupakan pendorong utama pelaku usaha beralih ke digital termasuk dalam hal belanja iklannya," jelasnya.

    Selain itu, Janoe mengatakan beberapa media digital juga telah memiliki platform yang cukup baik dalam mengenali konsumen. 

    Hal tersebut memberi kesempatan kepada pelaku usaha untuk dapat melakukan one-on-one advertisement.

    "Iklan lebih mudah untuk disesuaikan, pelaku usaha akan sangat tertarik. Personalisasinya lebih kuat dibanding media lainnya," jelasnya.

    Hal serupa juga dikatakan oleh Media Director DSP Media Antonious Pribadi. Meski belum dapat memastikan berapa besar potensi pertumbuhannya, dia mengatakan belanja iklan perusahaan di media digital akan tumbuh pesat.

    Pasalnya, belanja iklan di media digital baru didominasi oleh pelaku usaha yang memiliki target pelanggan yang spesifik, seperti mobil atau alat elektronik.

    Iklan media digital akan naik lebih signifikan jika perusahaan fast-moving consumer goods mulai pesat menggunakannya.

    "Mereka sudah masuk tetapi, masih belum signifikan. Porsi belanja iklan mereka cukup besar. Jika mereka lebih gencar, maka iklan media digital ini akan semakin besar," katanya.

    Meski demikian Pribadi menggaris bawahi iklan media digital masih didominasi oleh perusahaan teknologi asing.

    Perusahaan teknologi ini sudah cukup spesifik dalam mengkategorikan penggunanya, tetapi masih belum mampu memberi data spesifik terkait efektifitas belanja iklan di platform digitalnya.

    Hal tersebut membuat para marketeers masih berhitung-hitung kembali dan mengganggap media konvensional masih relevan.

    "Harus ada data spesifik terkait efektifitas itu belanja iklan. Data ini masih belum bisa disuguhkan," ujarnya.

    Associate Director, Communications & Marketing, The Nielsen Company Indonesia Milladine Lubis mengatakan kemunculan dan perkembangan media digital, dapat dikatakan melengkapi media konvensional. 

    "Aktivitas mengakses beberapa layar media secara bersamaan, atau disebut dengan dual/triple-screen setiap harinya sudah menjadi kebiasaan konsumen di berbagai generasi," jelasnya seperti dikutip dari siaran pers Nielsen, Jumat (14/12/2018).

    Berdasarkan studi Nielsen Cross Platform 2018, lebih dari 90% konsumen berusia 16-39 tahun mempunyai kebiasaan menonton TV dan mengakses internet secara bersamaan, dan sepertiga di antaranya melakukan setiap hari. 

    Bahkan di kalangan konsumen usia 40+, lebih dari 80% diantaranya juga mengakses internet saat menonton televisi.

    Adapun, berdasarkan hasil temuan Digital Ad Intel dan Nielsen, dari 200 situs yang dimonitor belanja iklan digital di bulan Agustus mencapai Rp1,3 triliun.

    Jika dilihat komposisi berdasarkan perangkatnya, 53% iklan digital ditayangkan di desktop, dan 47% melalui perangkat mobile. Sementara itu, berdasarkan format iklannya 53% iklan digital berbentuk display dan sisanya 47% dalam bentuk video. 

    Selain itu, kategori layanan online merupakan yang paling banyak beriklan di media digital dengan nilai Rp354 miliar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.