Sabtu, 15 Desember 2018

Luhut Sebut Kapal Sitaan Bisa Diserahkan ke Nelayan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan merayakan ulang tahun di parkir Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin, 1 Oktober 2018. TEMPO/ Caesar Akbar

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan merayakan ulang tahun di parkir Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin, 1 Oktober 2018. TEMPO/ Caesar Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bakal kembali menggelar rapat soal penanganan kapal sitaan pada Senin, 17 Desember 2018. Rapat itu akan membahas jumlah kapal sitaan yang akan dibawa ke pengadilan.

    Baca: Luhut Singgung Meikarta: Investasi Trus Ketangkap, Kan Kampungan

    "Nah itu, kami akan rapat soal itu," ujar Luhut di Kantor Kemenko Kemaritiman, Kamis, 6 Desember 2018. Menurut dia, pengadilan lah yang nanti akan memutuskan nasib kapal-kapal sitaan itu. Kapal sitaan tersebut nantinya bakal diputuskan, misalnya diserahkan kepada pemerintah.

    Lantas, Luhut mengatakan kapal-kapal itu nantinya bisa diserahkan kepada koperasi nelayan, dipergunakan untuk nelayan, atau dijadikan rumpon. Soal opsi penenggelaman kapal, Luhut tidak berkomentar. "Kalau enggak bisa dipakai lagi, maka dijadikan rumpon."

    Sebelumnya, pada Senin, 3 Desember lalu, Luhut berujar setidaknya ada 1.300 kapal penangkap ikan ilegal yang disita oleh negara. Karena itu, ia mengatakan perkara tersebut mesti segera dicarikan jalan keluar agar tidak menumpuk dan menjadi bangkai kapal di pelabuhan.

    Kala itu, ia mengatakan penenggelaman kapal merupakan pilihan terakhir. Menurutnya, jika kapal tersebut masih dapat digunakan dan memiliki nilai ekonomi, lebih baik dilelang atau diserahkan ke koperasi nelayan agar bisa dimanfaatkan.

    Dalam rapat kemarin, Luhut mengatakan telah bersepakat soal pengertian kapal asing. Kata dia, kapal asing yang sudah dibeli oleh orang Indonesia akan diakui resmi sebagai milik orang Indonesia. "Sudah enggak ada lagi namanya kapal asing, itu kapal orang Indonesia."

    Dengan demikian, apabila kapal itu melakukan kesalahan di perairan Indonesia, maka harus ditindak sesuai dengan peraturan perundangan yang ada. "Jadi jangan dibilang kapal asing enggak boleh operasi di sini kalau kapal itu misalnya sudah menjadi milik kamu," kata Luhut.

    CAESAR AKBAR | CHITRA PARAMAESTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.