Rini Soemarno Minta Pertamina Tunda Terbitkan Obligasi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno meminta Pertamina menunda untuk menerbitkan obligasi atau global bond. Rini menyebutkan saat ini bukan waktu yang tepat menerbitkan bond karena kondisi pasar drop total.

    Baca juga: Pertamina Tambah 8 Titik Lagi BBM Satu Harga di Sumatera

    "Seluruh dunia drop keadaannya sangat jelek. Waktu itu bu Nicke (Direktur Utama Pertamina) telepon saya, 'bu rini ini bunganya akan jauh lebih tinggi daripada PLN', saya bilang kamu kan tidak butuh duitnya sekarang, 'tidak sih bu', ya udah kamu mundur saja dari pasar," kata Rini di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Rabu, 31 Oktober 2018. "Persoalannya karena bunganya terlalu tinggi".

    Menurut Rini, Pertamina lebih baik memundurkan waktu penerbitan bond, karena tidak mendesak membutuhkan duit.

    "Ngapain kamu bayar mahal untuk sesuatu yang kamu tidak perlu," kata Rini sambil menirukan percakapan dengan Nicke. Menurut Rini, Pertamina bisa menarik suatu fasilitas yang masih ada di perbankan asing.

    "Jadi bukan karena tidak laku tapi karena bunganya terlalu tinggi, jadi saya mengatakan jangan," ujar dia.

    Sebelumnya PLN kembali menerbitkan Global Bond senilai kurang lebih US$ 1,5 miliar. Direktur Keuangan PLN Sarwono mengatakan penerbitan itu akan digunakan untuk mendanai kebutuhan Investasi dan kebutuhan Program 35 GW.

    "Pilihan pendanaan ini cukup tepat mengingat sebagian besar kebutuhan investasi peralatan pembangkit listrik masih harus diperoleh dari Luar Negeri," kata Sarwono dalam keterangan tertulis, Selasa, 23 Oktober 2018.

    Global Bond tersebut diterbitkan sekaligus dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan Euro, yaitu US$ 500 juta dengan tenor 10 tahun 3 bulan, US$ 500 juta dengan tenor 30 tahun 3 bulan, dan € 500 juta dengan tenor 7 tahun. Tingkat bunganya masing-masing 5,375 persen, 6,25 persen, dan 2,875 persen.

    Sarwono mengatakaan di tengah kondisi pasar yang volatile atau tengah bergejolak serta isue trade war, PLN tidak hanya berhasil mendapatkan pendanaan dengan tenor yang panjang. Namun juga berhasil memperluas basis investor di Pasar Eropa dengan Global Bond bermata uang Euro.

    Menurut Sarwono, PLN merupakan BUMN Indonesia pertama yang mampu secara bersamaan menerbitkan Global Bond di Pasar Internasional dalam dual currency yaitu dolar AS dan Euro. PLN juga BUMN Indonesia pertama yang mampu menerbitkan secara sekaligus dalam triple tranches yaitu tenor 7 tahun, 10 tahun dan 30 tahun.

    Simak berita Pertamina hanya di Tempo.co

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.