Kamis, 15 November 2018

4 Tahun Jokowi, Budi Karya: Papua Diberi Perhatian Khusus Sebab..

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Holtekamp, Jayapura, Papua, yang selesai 95 persen pembangunannya, tampak, 11 April 2018. Jembatan ini rencananya mulai bisa dipergunakan pada Juli 2018. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

    Jembatan Holtekamp, Jayapura, Papua, yang selesai 95 persen pembangunannya, tampak, 11 April 2018. Jembatan ini rencananya mulai bisa dipergunakan pada Juli 2018. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama empat tahun pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla, pemerintah berkomitmen membangun konektivitas dalam konteks Indonesia Sentris menjadi prioritas. Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, kelancaran suplai logistik yang terjadi dari ujung ke ujung menjadi penentu handalnya Indonesia.

    Baca: Soal Utang, Sri Mulyani Beberkan Belanja Negara Era SBY-Jokowi

    "Itulah sebabnya, bagi Papua diberikan perhatian khusus," kata Budi Karya Sumadi di Gedung Kementerian Sekretariat Negara, Rabu, 24 Oktober 2018. Hal itu disampaikan dalam diskusi 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan tema Penguatan Indonesia Sentris.

    “Kalau kita bicara mengenai Indonesia Sentris, maka memang Kemenhub menjadi salah satu pihak yang senantiasa harus memberikan terbaik, melalui penciptaan konektivitas. Baik melalui akses darat, laut, ataupun udara,” kata Budi.

    Menurut Budi menjadikan Papua sebagai salah satu pusat pembangunan Indonesia Sentris, karena banyak dispartitas yang terjadi di sana, khususnya soal harga. “Disparitas harga terjadi karena memang terbatas dan tidak adanya angkutan ke Papua, baik dari NTT, Kaltara, dan Natuna. Ini yang secara langsung harus diselesaikan,” ucapnya. 

    Strategi persoalan itu, menurut Budi, adalah dengan membangun pelabuhan dan bandara, khususnya di beberapa tempat yang menggambarkan kesenjangan tersebut. Pemerintah telah membangun Bandar Udara Nop Goliat Dekai yang melayani Kota Dekai, Ibu kota dari Kabupaten Yahukimo, Papua, dengan anggaran lebih dari Rp 500 miliar untuk menggantikan Bandara Wamena.

    Tujuannya, pesawat apapun dapat masuk ke bandara itu dan logistik pun langsung bisa didistribusikan. “Menjadi catatan bahwa kalau kita bicara Indonesia Sentris maka urgensinya sangat terasa di Pegunungan Jayawijaya. Di mana tempat itu susah dijangkau. Itulah sebabnya, kami membangun banyak bandara di sana,” ujar Budi.

    Pembangunan bandara intinya, menurut Budi, harus disegerakan agar konektivitas dan suplai logistik berjalan dengan baik. “Kemenhub mensuplai bahan-bahan pokok. BUMN mensuplai bahan bakar. Alhasil, apresiasi pun banyak diberikan masyarakat,” kata Budi.

    Khusus di Papua, Budi menjelaskan, kini terdapat 48 bandara. Pembangunan bandara itu, sambung dia, dialokasikan dari 40 persen anggaran Perhubungan Udara. “Fokus pembangunan pada safety dan aksesibilitas. Kalau dulu kita selalu mendengar kecelakaan. Alhamdulillah sekarang sangat berkurang banyak,” ujar Budi.

    Budi mengatakan di Papua Barat dibangun 16 bandara. Selain pembangunan bandara-bandara, sambung dia, disparitas itu juga diselesaikan dengan tol laut. 

    Baca: Kasus Suap Meikarta, Menteri-menteri Jokowi Ini Ikut Berkomentar

    Turut hadir dalam FMB 9 kali ini sebagai narasumber antara lain Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Mendagri/Kepala BNPP Tjahjo Kumolo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo, dan Kepala BRG Nazir Foead.

    Simak berita menarik lainnya terkait Jokowi hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.