Presiden Joko Widodo Resmikan 17 Terminal BBM Satu Harga

Reporter:
Editor:

Anisa Luciana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi tetap menjadi magnet pembicaraan sepanjang 2017, bahkan namanya masuk dalam tokoh dunia yang paling banyak diperbincangkan di Twitter. Sejak menjabat, Jokowi rajin blusukan ke penjuru negeri dan memerintahkan berbagai pembangunan infrastruktur. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi tetap menjadi magnet pembicaraan sepanjang 2017, bahkan namanya masuk dalam tokoh dunia yang paling banyak diperbincangkan di Twitter. Sejak menjabat, Jokowi rajin blusukan ke penjuru negeri dan memerintahkan berbagai pembangunan infrastruktur. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo hari ini, Jumat, 29 Desember 2017, meresmikan 17 terminal bahan bakar minyak (TBBM) di Pontianak, Kalimantan Barat, selain meresmikan 16 lembaga penyalur BBM Satu Harga.

    "Saya resmikan secara serentak 17 penyalur BBM Satu Harga yang ada di berbagai daerah. Saya mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada seluruh jajaran Pertamina dan swasta yang sudah bekerja keras mewujudkan BBM Satu Harga, BBM yang berkeadilan," kata Presiden Joko Widodo di TBBM Pontianak Jalan Khatulistiwa, Siantan, Kalimantan Barat.

    Selain Presiden, hadir juga Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, serta sejumlah pejabat lainnya.

    Ketujuh belas TBBM itu berupa 16 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan SPBU Nelayan (SPBUN) yang masuk dalam Program BBM Satu Harga.

    Baca juga: Awal Desember, BBM Satu Harga Pertamina Mencapai 38 Titik

    "Pertama kali Program BBM Satu Harga diumumkan banyak yang meragukan bahwa program ini akan berjalan, tidak yakin program ini bisa berjalan, karena memang terlalu sulit, juga terlalu mahal biayanya," ungkap Presiden.

    Presiden mengakui karena perbedaan kontur wilayah dan luasnya area negara Indoensia maka harga BBM di satu daerah dengan daerah lain bisa berbeda jauh. Semakin ke daerah Timur Indonesia dan semakin terpencil kawasan tersebut, maka harga BBM pun semakin mahal.

    "Bahkan makin ke Timur, di Sulawesi, di tempat-tempat terpencil bisa Rp 75 ribu dan sering saya sampaikan di Papua bisa Rp 100 ribu per liter, akibatnya apa? Ini yang sering tidak kita kalkulasi akibatnya, yaitu harga-harga bahan pokok yang dibutuhkan rakyat menjadi semakin mahal karena biaya distribusinya mahal, biaya logistiknya tinggi," ungkap Presiden.

    Kesulitan untuk mencapai target BBM Satu Harga itu terutama karena medan berat di berbagai wilayah seperti di Kabupaten Puncak, Yahukimo, Tolikara dan berbagai kabupatan lain di Papua. Selanjutnya ada juga tempat-tempat yang tersebar di berbagai pulau seperti di Seram, Wakatobi, Siberut Tengah, Mentawai yang berada di Sulawesi, Maluku hingga Sumatera.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.