Sulit Terbit, HGU Hambat Investasi Perkebunan

Reporter

Kamis, 31 Maret 2016 23:04 WIB

Seorang buruh karet mengumpulkan getah karet yang telah disadap di lahan perkebunan karet Perusahaan Daerah Perkebunan Gunung Pasang, desa Kemiri, Jember, Senin (6/11). Dalam sehari masing-masing buruh mampu mengumpulkan 25 kilogram getah karet dengan upah Rp 4500 perkilo. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Bandung - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perkebunan (GPP) Jabar-Banten RHS Slamet Bangsadikusumah mengatakan, pengusaha perkebunan mengeluhkan kepastian pengurusan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan. “HGU itu pegangan, kepastian hukum bagi pengusaha perkebunan, kami merasakan terlalu lambat. Karena ada yang sampai 10 tahun, 18 tahun (mengurusnya) belum terbit sampai sekarang,” kata dia selepas bertemu Sekretaris Daerah Jawa Barat di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 30 Maret 2016.

Slamet mengatakan, ketidakpastian waktu pengurusan HGU memicu okupansi liar areal perkebunan, dan ketidakpastian dalam usaha perkebunan. “Kepastian hukum itu sangat penting bagi pengusaha perkebunan, soalnya payback-period tanaman (perkebunan) itu kan lima tahun baru menghasilkan. Kalau kepastian hukumnya susah dipegang, pas setahun mengurus lalu tanahnya diambil orang? Padahal sudah investasi di sana,” kata dia.

Menurut Slamet, salah satu persyaratan yang dikeluhkan pengusaha perkebunan mengenai kondisi lahan yang “clear & clean” yang kerap sulit dipenuhi justru karena tidak adanyak kepastian waktu pengurusan HGU. “Clear & clean artinya di dalam tanah itu tidak ada permasalahan. Nah permasalahan itu muncul saat proses,” kata dia.

Saat perpanjangan HGU misalnya, pengusaha perkebunan diminta sudah mengurusnya sejak dua tahun sebelum masa pengelolaannya habis. “Ini bertahun-tahun gak selesai. Kita mau menanam kagok, ragu-ragu, jangan-jangan gak terbit. Akhirnya tanah itu seolah-olah menjadi tanah kosong, datanglah okupansi liar, nah gak clear & clean. Padahal ketentuannya penerbitan SK itu harus clear & clean. Ini yang berat,” kata Slamet.

Slamet mengklaim, persoalan serupa terjadi juga dalam permintaan izin baru HGU. Kasus terkatung-katungnya pengurusan HGU itu terjadi di sejumlah daerah diantaranya di Garut, Subang, Cianjur, dan Sukabumi.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, masalah ketidakpastian waktu pengurusan HGU itu yang dikeluhkan pengusaha perkebunan dalam pertemuan itu. “Kepastian hukum di sini adalah proses perpanjangan, atau pengurusan HGU yang sangat lama sehingga di lapangan karena lama, berdampak pada kemungkinan terjadinya konflik,” kata dia, Kamis, 30 Maret 2016.

Iwa mengatakan, pengusaha perkebunan meminta agar BPN (Badan Pertanahan Nasional) memberikan kepastian waktu bagi pengurusan HGU. “Pemerintah provinsi akan menampung keluhan tersebut untuk diteruskan pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang,” kata dia.

Dia khawatir, berlarutnya masalah HGU ini bakal menghambat investasi di sektor perkebunan. “Investasi juga akan terhambat, kepastian hukumnya menjadi tidak jelas,” kata Iwa.

GPP Jabar-Banten merupakan asosiasi pengusaha perkebunan negeri dan swasta di Jawa Barat dan Banten. Slamet mengklaim, anggotanya tercatat 196 orang unit perkebunan di Jawa Barat dan 20 unit di Banten. Organisasi ini berdiri sejak jaman Belanda, bernama Algemene Landbouw Syndicaat (ALS), dan baru tahun 2004 berubah nama menjadi GPP Jawa Barat-Banten, sebelumnya Sindikat Perkebunan Jawa Barat.

Di Jawa Barat, dari 196 anggotanya mengelola 127.410 hektare lahan perkebunan, terdiri dari 54.764 perkebunan swasta dan 72.646 perkebunan pemerintah (PTPN). Terdiri dari perkebunan teh 20.916 hektare, karet 22.202 hektare, kakao 2.952 hektare, sawit 4.058 hektare, kopi 258 hektare, dan lain-lain 77.024 hektare. Sensus Pertanian 2013 mencatat jumlah rumah tangga usaha pertanian subsektor perkebunan Jawa Barat sebanyak 782.936 rumah tangga.

AHMAD FIKRI

Berita terkait

Gapki Tanggapi Target Pemerintah soal Pemutihan Lahan Sawit pada September 2024

2 hari lalu

Gapki Tanggapi Target Pemerintah soal Pemutihan Lahan Sawit pada September 2024

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki tanggapi soal target pemerintah menyelesaikan pemutihan hutan di lahan sawit September 2024.

Baca Selengkapnya

Keunikan Stadion Siliwangi, Lokasi Konser Sheila on 7 di Bandung, Pernah jadi Markas Tim Sepak Bola Militer Belanda

7 hari lalu

Keunikan Stadion Siliwangi, Lokasi Konser Sheila on 7 di Bandung, Pernah jadi Markas Tim Sepak Bola Militer Belanda

Di Bandung, Sheila on 7 akan mangung di Stadion Siliwangi. Awalnya stadion itu bernama lapangan SPARTA, markas tim sepak bola militer Hindia Belanda.

Baca Selengkapnya

Polisi Tangkap Pembunuh Wanita di Apartemen Jardin Bandung yang Kabur ke Jakarta

17 hari lalu

Polisi Tangkap Pembunuh Wanita di Apartemen Jardin Bandung yang Kabur ke Jakarta

Seorang wanita ditemukan tewas di Apartemen Jardin, Kota Bandung, diduga dibunuh pelanggannya

Baca Selengkapnya

Rekomendasi 5 Tempat Wisata Air di Bandung untuk Menghabiskan Waktu Libur Lebaran

22 hari lalu

Rekomendasi 5 Tempat Wisata Air di Bandung untuk Menghabiskan Waktu Libur Lebaran

Salah satu aktivitas rekreasi yang bisa dilakukan bersama dengan keluarga ketika masa libur lebaranadalah berenang.

Baca Selengkapnya

Penumpang Terminal Leuwipanjang Bandung Naik 20 Persen Selama Arus Mudik Lebaran

26 hari lalu

Penumpang Terminal Leuwipanjang Bandung Naik 20 Persen Selama Arus Mudik Lebaran

Kepala Terminal Leuwipanjang Kota Bdung Asep Hidayat mengatakan, kenaikan jumlah penumpang di arus mudik Lebaran terpantau sejak H-7.

Baca Selengkapnya

Petani Desa Pakel Banyuwangi Dilaporkan Balik oleh Satpam PT Bumisari atas Dugaan Pengeroyokan

34 hari lalu

Petani Desa Pakel Banyuwangi Dilaporkan Balik oleh Satpam PT Bumisari atas Dugaan Pengeroyokan

Konflik Agraria antara petani Desa Pakel Banyuwangi dan PT Bumisari makin berlarut-larut.

Baca Selengkapnya

Kronologi Intimidasi Petani di Pakel Banyuwangi Diduga oleh Pihak Perkebunan Bumisari, Ada Todongan Senjata hingga Suara Tembakan

49 hari lalu

Kronologi Intimidasi Petani di Pakel Banyuwangi Diduga oleh Pihak Perkebunan Bumisari, Ada Todongan Senjata hingga Suara Tembakan

Diduga preman dan sekuriti PT Perkebunan dan Dagang Bumi Sari Maju Sukses melakukan serangan dan intimidasi terhadap petani Desa Pakel Banyuwangi.

Baca Selengkapnya

Monyet Ekor Panjang Berkeliaran di Bandung, Pakar ITB: Akibat Habitat Rusak dan Perburuan

52 hari lalu

Monyet Ekor Panjang Berkeliaran di Bandung, Pakar ITB: Akibat Habitat Rusak dan Perburuan

Pakar ITB menengarai kemunculan monyet ekor panjang di Bandung akibat kerusakan habitat asli. Populasi mamalia itu juga tergerus karena perburuan.

Baca Selengkapnya

Kementan Targetkan Penanaman Tumpang Sari Padi Gogo Seluas 500 Ribu Hektare di Lahan Sawit

59 hari lalu

Kementan Targetkan Penanaman Tumpang Sari Padi Gogo Seluas 500 Ribu Hektare di Lahan Sawit

Kementerian Pertanian atau Kementan menargetkan penanaman padi gogo di lahan perkebunan sawit dan kelapa seluas 500 ribu hektare.

Baca Selengkapnya

Serba-serbi Monyet Ekor Panjang, Mengapa Bertindak Agresif ke Manusia?

4 Maret 2024

Serba-serbi Monyet Ekor Panjang, Mengapa Bertindak Agresif ke Manusia?

Macaca Fascicularis atau di Indonesia lebih dikenal monyet ekor panjang kerap bertindak agresif pada manusia, apa sebabnya?

Baca Selengkapnya