Andaliman Naik Pamor, Lada Khas Batak sebagai Potensi Bisnis Unggulan Sumut

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa Universitas Negeri Medan sedang memanen tanaman andaliman di Desa Parsoburan, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (28/5). (Antara Sumut/Foto Istimewa/Munawar.)

    Mahasiswa Universitas Negeri Medan sedang memanen tanaman andaliman di Desa Parsoburan, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (28/5). (Antara Sumut/Foto Istimewa/Munawar.)

    TEMPO.CO, JakartaAndaliman adalah tumbuhan liar yang  mampu tumbuh hingga ketinggian 5 meter, rata-rata 2 sampai 4 meter. Cita rasa buahnya pedas, serta rasa hangat berkat kandungan senyawa aromatik hydroxy-alpha-sanshool didalamnya. Andaliman, lada khas Batak, Sumatera Utara.

    Budidaya andaliman cukup sulit, apalagi proses pembibitannya. Selain itu, tanaman ini hanya dapat tumbuh optimal di daerah dengan kondisi suhu yang sejuk, seperti di pegunungan.

    Pemilihan bibit pun tak boleh sembarangan, petani harus mendapatkan bibit yang berkulalitas bagus. Untuk mendapatkannya pun butuh strategi ekstra, biasanya petani mencari alternatif mengambil bibit yang tumbuh alami di bawah tanaman induk.

    Kemudian bibit di tanam dengan jarak tertentu. Untungnya tanaman ini tak perlu perawatan ekstra, karena memang sifatnya tanaman liar. Bahkan pemberian pupuk tak sepenuhnya dibutuhkan, hal itu justru membuat andaliman bertahan lebih singkat. Sebaliknya, membiarkannya tumbuh alami justru lebih baik untuk pertumbuhan jenis lada satu ini.

    Mulai dari penanaman pohon andaliman, dapat lakukan dipanen ketika berumur 1,5 tahun. Itupun jika bunga tak gugur akibat terganggu kondisi cuaca. Biasanya tiap satu batang andaliman dapat menghasilkan 5 hingga 7 kilogram. Tanaman ini dapat terus berproduksi hingga 10 bahkan 15 tahun, mirip seperti tanaman kopi.

    Andaliman memiliki potensi bisnis, karena bukan saja menjadi bumbu yang dibutuhkan  di setiap kuliner khas Batak. tapi juga menjadi bahan obat herbal untuk berbagai penyakit.

    Tanaman endemik kawasan Danau Toba ini, diekspor ke Jerman sebanyak 574 kilogram dengan nilai Rp 431 juta. Ekspor andaliman meningkat seiring naiknya pamor andaliman di dunia kuliner dan pengobatan herbal dalam negeri ataupun luar negeri. Andaliman berpotensi menjadi komoditi pertanian unggulan dari Sumatera Utara. Di aplikasi penjualan online, seperti Tokopedia, andaliman dijual per kilogram berkisar antara Rp 120 ribu hingga Rp 300 ribu.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION

    Baca: Konsumsi Andaliman atau Lada Batak untuk Mengurangi Risiko Kanker


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.