KKP: Sektor Perikanan RI Hadapi Dampak Lebih Parah Akibat Perubahan Iklim

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis dari berbagai organisasi lingkungan melakukan aksi terkait krisis iklim di Taman Aspirasi, Monas, Jakarta Pusat, Jumat 20 September 2019. Dalam aksinya mereka meminta pemerintah untuk serius mengatasi dampak perubahan iklim demi generasi mendatang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Aktivis dari berbagai organisasi lingkungan melakukan aksi terkait krisis iklim di Taman Aspirasi, Monas, Jakarta Pusat, Jumat 20 September 2019. Dalam aksinya mereka meminta pemerintah untuk serius mengatasi dampak perubahan iklim demi generasi mendatang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP menyebut peningkatan suhu telah menyebabkan terjadinya perubahan iklim di berbagai belahan bumi. Seiring dengan menghangatnya suhu dan meningkatnya keasaman perairan laut, stok ikan pun diprediksi akan bergerak menuju habitat yang lebih sesuai.

    "Indonesia, sebagai negara tropis, diperkirakan menghadapi dampak yang lebih parah dibandingkan dengan kawasan lainnya di dunia, terlebih di sektor perikanan," tulis KKP dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, 12 Februari 2021.

    Sementara, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP Sjarief Widjaja kemudian mengutip data The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Tahun 2018. Menurut data ini, negara di dunia bisa menekan kenaikan suhu di angka 15 derajat celcius sebelum tahun 2030.

    Sehingga, tersisa waktu 10 tahun bagi seluruh pihak secara global untuk dapat menekan terjadinya perubahan iklim secara drastis. “Pemanasan global di atas 1,5 derajat celcius akan menambah risiko bencana alam ekstrem seperti cuaca panas ekstrem, kekeringan parah, dan banjir," kata Syarief.

    Untuk itu, kata Syarief, ada sejumlah upaya yang ditempuh KKP untuk mencegah dampak ini. Pertama mengatur pengelolaan area penangkapan ikan melalui aplikasi yang sudah mereka luncurkan yaitu Laut Nusantara.

    Aplikasi ini memberikan akses informasi Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) hingga cuaca laut bagi nelayan. "Sehingga aktivitas penangkapan ikan lebih efektif dan efisien," kata Syarief.

    Kedua, menerapkan panel surya pada penggunaan cold storage, alias kulkas pendingin dari ikan-ikan hasil tangkapan nelayan. “Kami berpikir cold storage membutuhkan bahan bakar. Kalau cold storage menggunakan solar cell maka dapat membantu pasokan energi listrik yang tentunya ramah bagi lingkungan,” kata dia.

    Ketiga, membangun instalasi pengolah sampah plastik di kawasan muara sungai. Tak hanya untuk menekan pencemaran, Syarief berharap fasilitas ini pun dapat menjadi sumber pemasukan baru bagi warga muara sungai untuk mengumpulkan sampah plastik di daerah mereka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.