Wijaya Karya Tetapkan Harga Right Issue Rp2.180

Reporter

Jumat, 4 November 2016 23:02 WIB

Logo PT Bursa Efek Indonesia (BEI) atau biasa disebut Indonesia Stock Exchange (IDX). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Korporasi konstruksi milik negara, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., menetapkan harga pelaksanaan hak memesan efek terlebih dulu (HMETD) atau right issue sebesar Rp2.180 dari rentang yang telah ditetapkan Rp1.525-Rp2.505.


Berdasarkan pengumuman yang disampaikan oleh perseroan pada Jumat (4 November 2016), setiap pemegang 80.000 saham lama sampai penutupan perdagangan pada Selasa (15 November 2016) berhak memperoleh sebanyak 36.697 HMETD.


“Di mana 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak 1 saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp2.180 setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan pemesanan pelaksanaan HMETD,” papar perseroan.


Pelaksanaan dan perdagangan HMETD itu akan dilakukan pada 17-23 November atau mundur dari rencana semula pada 3-9 November. Dalam aksi korporasi itu, PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities akan menjadi pembeli siaga.


Seperti diketahui, emiten berkode saham WIKA itu berencana melakukan right issue setelah disetujui oleh Komisi VI, Komisi XI dan Badan Anggaran DPR untuk memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp4 triliun yang dianggarkan dalam APBN Perubahan 2016.


Advertising
Advertising

Dengan PMN Rp4 triliun, perusahaan dapat melakukan right issue dengan target dana secara keseluruhan Rp6,1 triliun, dimana sekitar Rp2,14 triliun lainnya akan diperoleh dari investor publik di Bursa Efek Indonesia.


Dana hasil right issue itu akan digunakan oleh perseroan sebagian besar dengan porsi 70,77% untuk kebutuhan belanja modal guna mendukung proyek infrastruktur prioritas pemerintah seperti jalan tol, pembangkit listrik, water treatment plant (WTP) dan kawasan industri.


Proyek itu antara lain pembangunan jalan tol Balikpapan-Samarinda dengan penggunaan dana sekitar 7,3%, Manado-Bitung 4,9%, Soreang-Pasirkoja 1,8%, WTP Jatiluhur 1,3%, pembangkit listrik 41,9%, kawasan industri 7,5% dan proyek-proyek lain 6,07%.


Sekitar 29,23% dana lainnya akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja guna mengembangkan usaha di bidang infrastruktur antara lain pembangkit listrik, jalan tol dan pengembangan kawasan.


“Lebih lanjut, seluruh penggunaan dana dalam rangka kebutuhan belanja modal hasil dari PMHMETD I ini akan digunakan oleh perseroan dalam bentuk penyertaan pada Special Purpose Vehicle (SPV),” papar perseroan.


Sebagai pengingat, parlemen melarang dana hasil right issue itu digunakan untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Wijaya Karya merupakan BUMN yang terlibat dalam pembangunan proyek kontroversial itu.


Pada saat ini, negara yang diwakili oleh Kementerian BUMN menjadi pemegang saham mayoritas perseroan dengan kepemilikan 65,05% sedangkan publik memiliki 34,93% saham. Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo memiliki 0,02% saham perseroan.


BISNIS.COM

Berita terkait

IHSG Ditutup Melemah Ikuti Mayoritas Bursa Kawasan Asia

3 hari lalu

IHSG Ditutup Melemah Ikuti Mayoritas Bursa Kawasan Asia

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore, ditutup turun mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham kawasan Asia.

Baca Selengkapnya

Harga Saham Sentuh Titik Terendah, Presdir Unilever: Akan Membaik

3 hari lalu

Harga Saham Sentuh Titik Terendah, Presdir Unilever: Akan Membaik

Presdir Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan salah satu hal yang penting bagi investor adalah fundamental bisnis.

Baca Selengkapnya

Unilever Indonesia Raup Laba Bersih Rp 1,4 Triliun pada Kuartal I-2024

3 hari lalu

Unilever Indonesia Raup Laba Bersih Rp 1,4 Triliun pada Kuartal I-2024

PT Unilever Indonesia Tbk. meraup laba bersih Rp 1,4 triliun pada kuartal pertama tahun 2024 ini.

Baca Selengkapnya

IHSG Sesi I Menguat 0,8 Persen ke Level 7.168,5

4 hari lalu

IHSG Sesi I Menguat 0,8 Persen ke Level 7.168,5

IHSG sesi I ditutup menguat 0,81 persen ke level 7.168,5. Nilai transaksi mencapai Rp 6,6 triliun.

Baca Selengkapnya

Hari Ini IHSG Diperkirakan Menguat, Saham Apa Saja yang Potensial Dilirik?

6 hari lalu

Hari Ini IHSG Diperkirakan Menguat, Saham Apa Saja yang Potensial Dilirik?

Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada memperkirakan IHSG pada awal pekan ini menguat bila dibandingkan pekan lalu. Apa syaratnya?

Baca Selengkapnya

SimInvest: Konflik Timur Tengah Tak Berpengaruh Langsung terhadap Bursa Saham Indonesia

10 hari lalu

SimInvest: Konflik Timur Tengah Tak Berpengaruh Langsung terhadap Bursa Saham Indonesia

SimInvest memprediksi dampak konflik timur Tengah tak begitu berpengaruh langsung terhadap bursa saham Indonesia.

Baca Selengkapnya

Seberapa Jauh Ekonomi Indonesia Terkena Imbas Efek Domino Serangan Iran ke Israel?

10 hari lalu

Seberapa Jauh Ekonomi Indonesia Terkena Imbas Efek Domino Serangan Iran ke Israel?

Pasca-serangan Iran ke Israel, perekonomian Asia ditengarai melemah diikuti dengan beragam fenomena yang terjadi. Bagaimana dampak bagi Indonesia?

Baca Selengkapnya

Timur Tengah Memanas, OJK Beberkan Dampaknya ke Sektor Jasa Keuangan RI

10 hari lalu

Timur Tengah Memanas, OJK Beberkan Dampaknya ke Sektor Jasa Keuangan RI

OJK membeberkan dampak memanasnya konflik di Timur Tengah kinerja intermediasi dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Baca Selengkapnya

Terkini: Strategi Sri Mulyani Antisipasi Dampak Ekonomi Serangan Iran ke Israel, Rupiah dan IHSG Melemah Dampak Geopolitik Timur Tengah

12 hari lalu

Terkini: Strategi Sri Mulyani Antisipasi Dampak Ekonomi Serangan Iran ke Israel, Rupiah dan IHSG Melemah Dampak Geopolitik Timur Tengah

Ketegangan situasi geopolitik Timur Tengah dapat berdampak kepada Indonesia di berbagai indikator ekonomi.

Baca Selengkapnya

IHSG Ditutup Melemah Ikuti Bursa Asia, Dampak Meningkatnya Ancaman Geopolitik Timur Tengah

12 hari lalu

IHSG Ditutup Melemah Ikuti Bursa Asia, Dampak Meningkatnya Ancaman Geopolitik Timur Tengah

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa sore ditutup turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia dan global.

Baca Selengkapnya