Rabu, 16 Agustus 2017

Anggota KEIN Minta Pemerintah Waspadai Penurunan Daya Beli

Minggu, 13 Agustus 2017 | 09:21 WIB
Hendri Saparini. ANTARA/Rosa Panggabean

Hendri Saparini. ANTARA/Rosa Panggabean.

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat ekonomi Hendri Saparini mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat belakangan ini perlu diwaspadai oleh pemerintah mengingat produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagian besar disumbang konsumsi.

"Sehingga pada saat konsumsi melambat, hal tersebut menjadi perlu diwaspadai," kata Hendri dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Baca juga: Kepala BPS Sebut Tak Ada Penurunan Daya Beli Masyarakat

Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu menyebutkan bahwa melambatnya konsumsi rumah tangga dapat dilihat mulai kuartal tiga tahun 2016.

"Mulai kuartal tiga 2016, konsumsi ini konsisten terus tumbuh pelan-pelan. Memang biasa tumbuhnya di antara 4,5 persen-5 persen," kata dia.


Hendri mengatakan pemerintah perlu melihat golongan masyarakat mana yang melakukan atau mengalami pengurangan konsumsi, baik itu dari kelompok masyarakat atas atau justru kelompok bawah.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Stagnan, Indef: Akibat Konsumsi Lesu

"Dua-duanya perlu diwaspadai. Tetapi kalau di atas, kegalauan kita mungkin tidak sebesar kalau terjadi di kelompok bawah. Kalau 40 persen masyarakat bawah melambat konsumsi, maka menjadi catatan penting," ucap dia.

Lebih lanjut, Hendri mengatakan pemerintah perlu merespons fenomena tersebut agar tidak berkelanjutan atau bahkan dapat segera membalik tren perlambatan tersebut.

Respon pemerintah terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga tersebut juga dapat menjadi langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia semester II-2017.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Program Dana Desa untuk Dorong Konsumsi

"Pelambatan ini harus segera dibalik. Jangka pendeknya, jangan lanjutkan dulu kenaikan tarif dasar listrik (TDL) karena penaikan TDL Rp100 ribu saja dapat mengurangi konsumsi yang signifikan. Kalau pemerintah memang ingin mendorong konsumsi, TDL naiknya nanti dulu," ujar Hendri.

Ia juga meminta pemerintah mempercepat pembagian kartu bantuan sosial agar dapat segera digunakan oleh masyarakat golongan bawah untuk belanja.

"Juga perlu ciptakan optimisme. Jangan ada kebijakan fiskal atau kebijakan pajak yang membuat orang berpikir untuk konsolidasi," kata Hendri.

Baca juga: Menteri Darmin Bantah E-Commerce Penyebab Daya Beli Menurun

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II-2017 sebesar 5,01 persen dan konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,95 persen (yoy).

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka pertumbuhan tersebut cukup bagus meskipun sedikit di bawah ekspektasi mengingat perekonomian global yang masih tidak menentu dan harga komoditas global yang menurun.

"Dengan bukti bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95 persen, maka konsumsi masyarakat Indonesia masih bagus, tidak ada penurunan daya beli," kata dia.

ANTARA


Grafis

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Sejak diumumkan pada Oktober tahun lalu, lebih dari 280 ribu orang mendaftar menjadi warga negara luar angkasa Asgardia. Proyek mimpi yang sarat kontroversi. Meski masih berupa konsep, Asgardia kini tengah menghimpun 100 ribu pendukung konstitusinya untuk mendaftarkan status negara itu ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.