Senin, 21 Agustus 2017

Patung Banteng Wulung, Ikon Baru Bursa Efek Indonesia

Minggu, 13 Agustus 2017 | 09:14 WIB
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution foto bersama di patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution foto bersama di patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita.

TEMPO.CO, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini mengadakan acara Stock Code Fun Walk atau jalan santai guna memperingati 40 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia. Bersamaan dengan itu, BEI juga meresmikan ikon baru pasar modal yakni patung Banteng Wulung, yang hari ini mulai dapat disaksikan di halaman gedung BEI.

Beberapa pejabat penting turut hadir dalam acara ini, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, Wakil Dewan Komisioner OJK Nurhaida, dan Anggota DK OJK Bidang Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Acara juga dihadiri oleh jajaran direksi BEI, yakni Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Direktur Penilaian Perusahaan Samsul Hidayat, dan Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa Alpino Kianjaya, dan kalangan stakeholder di lingkungan pasar modal.

Baca juga: Bursa Saham 2017, Untung atau Buntung?

Menurut Tito Sulistio, patung banteng telah dikenal sebagai simbol pasar keuangan di dunia yang menggambarkan optimisme dan masa depan lebih baik. Biasanya, patung banteng di negara lain dibuat dari perunggu atau campuran semen dan batu. Namun kali ini, Bursa Efek menggandeng seniman asal Bali untuk mengukir patung seberat tujuh ton itu.


“Patung ini dibuat dari fosil kayu yang berusia lebih dari 2,5 juta tahun lalu yang berasal dari Lebak, Banten. Patung ini mengambil sebuah legenda asli dari tanah Pasundan, hitam, kuat, perkasa, mampu berlari kencang, semoga ini dapat menular di Bursa Efek Indonesia,” tutur Tito Sulistio saat memberikan sambutan di halaman gedung BEI, Ahad, 13 Agustus 2017.

Tito berharap, dengan diresmikannya patung Banteng Wulung tersebut dapat mendorong pasar modal di Indonesia untuk tetap bergerak positif atau bullish, tak hanya di Indonesia, namun juga saat bersaing dengan negara lain. Peresmian patung banteng hari ini juga diikuti dengan peresmian galeri BEI di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar yang ke 300, yang dilaksanakan secara video conference.

Baca juga: Transaksi Pasar Modal di Bali Tembus Rp5,01 Triliun

Dalam kesempatan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengutarakan beberapa pertanyaan terkait antusiasme kalangan pemuda di Makassar dalam berpartisipasi memeriahkan galeri BEI tersebut.


“Saya berharap dengan dibukanya galeri berbagai pelosok indonesia, kepemilikan saham dan partisipasi masyarakat di dalam memiliki dan mengikuti perdagangan saham itu bisa semakin diperluas sehingga bisa menciptakan apa yang disebut rasa memiliki terhadap pasar modal dan Bursa Efek Indonesia,” kata Sri Mulyani.

DESTRIANITA


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?