Efek Blokir, CEO Telegram Pavel Durov Mengaku Fans Berat RI

Senin, 17 Juli 2017 | 20:31 WIB
Efek Blokir, CEO Telegram Pavel Durov Mengaku Fans Berat RI
Pria lulusan universitas Academy Gymnasium jurusan Fiologi di St. Petersburg ini, ditengah perkulihannya, Pavel Durov tekun mempelajari bidang pemrograman hingga akhirnya ketekunan Durov menghasilkan sesuatu, yakni perpustakaan online. wesh.uk

TEMPO.CO, Jakarta - CEO Telegram Pavel Durov secara pribadi mengaku sebagai fans berat Negara Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan dari channel resminya di Telegram. “Sudah beberapa kali saya ke sana dan memiliki banyak teman di sana,” seperti dikutip dari pernyataan Durov pada Ahad, 16 Juli 2017.

Pavel angkat bicara panjang lebar saat Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir layanan percakapan versi web Telegram. Dalam tulisannya berjudul “Some Thoughts on Indonesia” Durov menyebutkan saat ini tak sedikit pengguna Telegram berasal dari Indonesia, dan kini jumlahnya mencapai beberapa juta orang.

“Jadi saya menyayangkan rencana Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir Telegram di Indonesia,” kata dia.

Simak: Begini Bachrun Naim Manfaatkan Telegram Untuk Merancang Teror

Durov menjelaskan, langkah Kementerian Kominfo tersebut di antaranya karena para pejabat dari kementerian itu telah beberapa kali mengirim surat elektronik ke Telegram dan menyebutkan sejumlah channel publik di Telegram yang diduga terkait dengan konten terorisme. “Dan tim kami tak bisa memproses soal itu dengan segera. Sayangnya, saya tak sadar dengan sejumlah permintaan tersebut, yang berujung pada miskomunikasi dengan pihak Kementerian," ucap Pavel Durov.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo Semuel A. Pangerapan dalam keterangan persnya sebelumnya, mengatakan kementeriannya tengah mempersiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum.

BacaTelegram Diblokir, CEO Telegram: Itu Aneh

“Dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web,” ujar Samuel dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 14 Juli 2017. Langkah pemblokiran Telegram ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Samuel menambahkan pihaknya meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram. Kesebelas DNS itu adalah t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org.

Keberadaan aplikasi Telegram yang dikelola perusahaan Pavel Durov tersebut sempat menjadi polemik sebelum diblokir. Majalah TEMPO Edisi 10-16 Juli 2017, misalnya, memuat aplikasi ini digunakan oleh kelompok ISIS untuk berkomunikasi. Grup Telegram ini kerap digunakan Bachrum Naim untuk berkomunikasi untuk mempublikasikan hasil konsultasi orang-orang soal aktivitas teror secara pribadi.

RR ARIYANI

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan