Menhub Ingin Bangun Monumen Mahasiswa STIP yang Tewas  

Minggu, 16 Juli 2017 | 22:26 WIB
Menhub Ingin Bangun Monumen Mahasiswa STIP yang Tewas   
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Ketua Komisi Perhubungan DPR Fary Djemy Francis meninjau Pelabuhan Bakauheni, Lampung, 2 Juli 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan akan membuat semacam monumen untuk mengenang kematian Amirullah Adityas Putra, 18 tahun, taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), menjadi korban tewas dianiaya seniornya. "Bulan depan sudah ada (monumen itu)," kata Budi Karya saat ditemui di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta Utara, Ahad, 16 Juli 2017.

Budi Karya menuturkan pihak keluarga sudah meminta kepada dirinya agar ada monumen mengenang kejadian tersebut. Dirinya menyetujui usulan itu. Namun ia merasa bentuknya belum tentu sebuah monumen. "Bisa juga nama ruang perpustakaan."

Bagi Budi Karya, kejadian tersebut harus dikenang semua orang karena yang hilang adalah nyawa manusia. Ia melihat momen yang terjadi pada Januari lalu menjadi momentum bagi pihak sekolah melakukan perubahan. "Jadikan momen ini lecutan untik mencapai hal yang lebih baik."

Menurut Budi Karya ada instruksi menteri untuk perubahan dilakukan di sekolah tersebut. Salah satu caranya adalah mengurangi kewenangan senior untuk mendidik junior, di mana hal ini sering disalahgunakan. "Saya juga minta waktu belajar ditambah."

Saudara kembar Amirullah, yaitu Amarullah, mengatakan pihak keluarga menginginkan adanya monumen untuk mengenang kejadian yang menimpa Amirullah. "Wujud penghargaan STIP kepada almarhum adik saya."

Amarullah menjelaskan sudah banyak perubahan terjadi di STIP. Misalnya di sisi pengawasan agar tak ada kontak fisik antara senior dan junior tak terjadi. Hal lainnya terjadi di kegiatan ekstrakurikuler di mana awalnya pembimbingnya adalah senior. "Sekarang ada pelatihnya yang lebih layak."

Amirullah Adityas Putra menjadi korban tewas karena dianiaya oleh seniornya. Peristiwa tersebut terjadi pada 10 Januari lalu.

DIKO OKTARA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru