Bisnis Jasa Nitip, Mulai Jutaan Hingga Miliaran Rupiah

Selasa, 18 April 2017 | 19:23 WIB
Bisnis Jasa Nitip, Mulai Jutaan Hingga Miliaran Rupiah
Ilustrasi pria berbelanja. nibinfo.nl

TEMPO.CO, Jakarta - Danang mengaku beruntung saat melewati pintu pemeriksaan imigrasi di terminal kedatangan luar negeri Bandar Udara Soekarno-Hatta, Selasa dua pekan lalu.

Petugas kepabeanan di pintu tersebut tidak terlalu ketat memeriksa barang bawaannya. Perangkat elektronik speaker Bose yang ditentengnya dari Amerika Serikat lolos dari pemeriksaan pabean. “Lolos begitu saja,” kata dia kepada Tempo, seperti dikutip di Majalah Tempo edisi Senin 17 April 2017.

Pengeras suara tersebut titipan teman kantornya. Meski barang bekas, harganya cukup mahal, lebih dari US$ 400. Karyawan perusahaan swasta itu sempat khawatir bakal dicegat dan dikenai denda pabean. Sebab, ada aturan baru di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan bahwa barang pribadi penumpang dengan nilai lebih dari US$ 250 dikenai bea masuk dan pajak dalam rangka impor.

Berawal melalui perorangan, titip-menitip barang—dari luar negeri maupun dari luar daerah—rupanya telah menjadi tren bisnis baru. Layanan jasa titip-menitip belanjaan itu semakin populer. Tak hanya di media sosial, beragam blog, situs, market place, menawarkan jasa serupa. Di antaranya Bistip.com, TitipJepang, dan Airfrov.com.

Jasa titip-menitip ini paling banyak bertaburan di Instagram. Cukup mengetik “jasa titip” di mesin pencari, muncul berderet pelayan jasa tersebut di layar ponsel pintar. “Jasa titip itu evolusi dari personal shopper. Awalnya dilakukan oleh para stylist,” kata Anke Dwi Saputro, praktisi branding, e-commerce, dan social media Cultivae Brand, kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Baca: Anak Susah Makan, Kenny Alkano Bikin Abon Nona Tuna

Dunia Internet, kata dia, membawa bisnis yang dulu bersifat personal to personal semakin masif. “Dunia digital mempertemukan dunia kecil-kecil menjadi pasar,” katanya. Jasa titip menawarkan kemudahan dengan membidik pasar spesifik. Pembeli hanya tinggal memesan barang lewat situs online titip belanja, maka barang yang diinginkan bisa langsung diantar ke konsumen.

TitipJepang, misalnya, membidik penggemar produk Jepang. Situs ini berfokus melayani semua titipan barang belanjaan dari Jepang, seperti komik, kaset, film, alat elektronik, cemilan khas Jepang, hingga alat pancing. Dirintis Bob Maulana Singadikrama di Yogyakarta pada 2015. Bob, yang sering pergi ke Jepang, awalnya iseng menawarkan titip oleh-oleh melalui akun Facebooknya. Kini ia sudah punya situs jasa titip dan melayani ribuan konsumen per bulan dengan omzet miliaran rupiah.

Baca: Lily Gunawan, Dokter Gigi yang Banting Setir ke Bisnis Teh

Menurut Lucia, pengelola TitipJepang, perusahaannya memiliki jejaring warga negara Indonesia di Jepang dan warga asli Jepang yang akan mencarikan pesanan konsumen di Tanah Air. Ia menambahkan, jasa titip beli dari Jepang cukup digemari karena harga barang jauh lebih murah bila dibandingkan membeli di Indonesia. Apalagi kualitas barang buatan Jepang dikenal bagus. TitipJepang bahkan membantu konsumen membeli barang bermerek yang tak diimpor ke Indonesia.

Amelia Huta Masniari, yang akrab disapa Miss Jinjing, khawatir dengan fenomena menjamurnya jasa titip tersebut. Menurut dia, tidak semua barang bisa dibawa masuk ke Indonesia karena dapat terkena pasal penyelundupan. Itu sebabnya pemerintah harus ketat mengontrol masuknya barang titipan tersebut, terutama kosmetik dan obat-obatan. “Bahaya karena tidak ada kontrol kualitas oleh BPOM,” kata dia. “Konsumen harus diedukasi.”

Berbeda dengan TitipJepang, Dwi Rahayu Damayanti mengatakan hanya melayani jasa titip belanja di mal-mal di Jakarta. Melalui akun Instagram, MallminiMall, Dwi menawarkan jasa menerima titipan belanja fashion bermerek, misalnya Zara.

Ia mengaku hampir setiap hari pergi ke berbagai mal untuk mengenali produk baru dan barang yang tengah didiskon. “Info itu saya sampaikan melalui Instagram, lalu ada yang titip beli,” kata Dwi.

 Untuk setiap item barang, ia mengutip uang jasa. Ongkos kirim ditanggung penitip. Berawal dari iseng-iseng memposting gambar di Instagram, kini Dwi mendapat penghasilan hingga 20 juta per bulan dengan nilai belanjaan ratusan juta rupiah.

AGUS SUPRIYANTO | WAWAN PRIYANTO

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan