Kamis, 17 Agustus 2017

Bidik 15 Juta Penumpang, Sriwijaya Datangkan 15 Pesawat Baru

Selasa, 21 Maret 2017 | 00:00 WIB
Sriwijaya Air. TEMPO/Subekti

Sriwijaya Air. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok bisnis besutan keluarga Chandra Lie, Sriwijaya Air Group membidik jumlah penumpang angkutan udara yang diangkut pada 2017 mencapai 15 juta orang, naik 34 persen dari realisasi tahun lalu sebanyak 11,2 juta orang. Untuk mencapai target itu, Sriwijaya akan membeli 15 pesawat.

Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo mengatakan potensi pasar yang bisa digarap Sriwijaya Air Group saat ini masih sangat terbuka lebar, baik dari rute penerbangan domestik maupun rute internasional.

“Dengan melihat potensi pasar saat ini, kami optimistis total jumlah penumpang yang dapat diangkut Sriwijaya Air dan NAM Air mencapai 15 juta penumpang pada tahun ini,” katanya di Jakarta, Senin, 20 Maret 2017.

Untuk merealisasikan target tersebut, Sriwijaya Air Group berencana meningkatkan kapasitas kursi pesawat, melalui pengadaan armada. Sedikitnya, sebanyak 15 pesawat baru akan datang hingga akhir Desember 2017.

Toto merinci 15 pesawat baru tersebut terdiri dari dua pesawat berbadan lebar (wide body) jenis B777, tujuh pesawat berlorong tunggal (narrow body) jenis B737 dan enam pesawat baling-baling jenis ATR.


“Sebenarnya, pemasukan [armada] itu lebih banyak karena ada empat pesawat yang mau kita phase out. Jadi pemasukan lebih dari itu. Hingga akhir Desember 2017, total armada kami mencapai 65 pesawat,” tuturnya.

Toto mengungkapkan pesawat B737 dan ATR akan digunakan untuk memperkuat jaringan penerbangan domestik. Khusus pesawat ATR, Sriwijaya Air Group akan mengoperasikannya di tiga tempat, yakni Papua, Sulawesi dan Manado.

Sementara itu, dua pesawat B777 Sriwijaya Air nantinya akan digunakan untuk melayani penerbangan umrah. Rencananya, dua pesawat berbadan lebar itu akan datang bertahap mulai November 2017.

Namun demikian, sambungnya, tidak menutup kemungkinan pesawat berbadan lebar itu juga dapat digunakan makapai untuk melayani rute-rute penerbangan lainnya, antara lain seperti rute penerbangan menuju China.

“Kita tahu umrah ini hanya 8 bulan. Ketika musim haji, kita harus stop [umrah]. Nah, kami lihat lima tahun ke depan, musim haji itu jatuhnya padapeak season, sehingga kami bisa pakai untuk ke China dan lain sebagainya,” ujarnya.
BISNIS.COM


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?