Kamis, 17 Agustus 2017

Gandeng Unud, Lorena Buka Program Magister Logistik  

Selasa, 12 Juli 2016 | 22:09 WIB
Sejak 18 tahun lalu, perusahaannya telah mengembangkan jasa angkutan barang dengan bendera PT Eka Sari Lorena Express (ESL Express). Kini perusahaan logistik ini telah memiliki sekitar 350 armada, termasuk truk, minibus dan sepeda motor. Dok. Pribadi

Sejak 18 tahun lalu, perusahaannya telah mengembangkan jasa angkutan barang dengan bendera PT Eka Sari Lorena Express (ESL Express). Kini perusahaan logistik ini telah memiliki sekitar 350 armada, termasuk truk, minibus dan sepeda motor. Dok. Pribadi.

TEMPO.CO, Jakarta - PT Eka Sari Lorena membuat program Eksekutif Magister Bisnis Administrasi di bidang transportasi logistik. Melalui Yayasan Sejuta Sahabat Indonesia, perusahaan itu bekerja sama dengan Maastricht School of Management Belanda dan Universitas Udayana Bali.

"Kalau Tuhan izinkan, akan mulai pada November 2016," ucap Eka Sari Lorena Soerbakti, Managing Director PT Eka Sari Lorena, saat ditemui di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 12 Juli 2016.

Eka Sari, yang juga merupakan Ketua Yayasan Sejuta Sahabat Indonesia, mengatakan saat ini biaya transportasi dan logistik di Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia, karena memakan porsi 20-30 persen dari biaya operasional. Sedangkan di negara lain hanya 9-12 persen.

Akibatnya, industri di Indonesia menjadi kurang kompetitif. Eka Sari ingin membuat industri transportasi Tanah Air menjadi kompetitif dan memiliki sistem yang lebih efisien. Untuk itu, dibutuhkan banyak ahli logistik. Hal inilah yang mendorong dia membuat program Eksekutif MBA tersebut.

Menurut Eka Sari, adanya pendidikan formal berupa sekolah logistik akan menciptakan individu yang paham soal logistik. Mereka diharapkan akan memberikan nilai tambah kepada industri.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat menuturkan pemerintah mendukung dengan mendorong industri mengirim orang-orangnya untuk belajar. Ini merupakan kesempatan belajar di dalam negeri dengan mengadopsi pengetahuan dari luar negeri.

Syarif yakin pebisnis yang memiliki pengetahuan logistik cukup akan mampu berbuat banyak terkait dengan pengaturan logistik. "Kami mendukung, apalagi infrastruktur lagi digenjot."

DIKO OKTARA

 





Grafis

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Asgardia, Negera Luar Angkasa Pertama, Segera Dibangun

Sejak diumumkan pada Oktober tahun lalu, lebih dari 280 ribu orang mendaftar menjadi warga negara luar angkasa Asgardia. Proyek mimpi yang sarat kontroversi. Meski masih berupa konsep, Asgardia kini tengah menghimpun 100 ribu pendukung konstitusinya untuk mendaftarkan status negara itu ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.