Gandeng Unud, Lorena Buka Program Magister Logistik  

Selasa, 12 Juli 2016 | 22:09 WIB
Gandeng Unud, Lorena Buka Program Magister Logistik  
Sejak 18 tahun lalu, perusahaannya telah mengembangkan jasa angkutan barang dengan bendera PT Eka Sari Lorena Express (ESL Express). Kini perusahaan logistik ini telah memiliki sekitar 350 armada, termasuk truk, minibus dan sepeda motor. Dok. Pribadi

TEMPO.CO, Jakarta - PT Eka Sari Lorena membuat program Eksekutif Magister Bisnis Administrasi di bidang transportasi logistik. Melalui Yayasan Sejuta Sahabat Indonesia, perusahaan itu bekerja sama dengan Maastricht School of Management Belanda dan Universitas Udayana Bali.

"Kalau Tuhan izinkan, akan mulai pada November 2016," ucap Eka Sari Lorena Soerbakti, Managing Director PT Eka Sari Lorena, saat ditemui di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 12 Juli 2016.

Eka Sari, yang juga merupakan Ketua Yayasan Sejuta Sahabat Indonesia, mengatakan saat ini biaya transportasi dan logistik di Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia, karena memakan porsi 20-30 persen dari biaya operasional. Sedangkan di negara lain hanya 9-12 persen.

Akibatnya, industri di Indonesia menjadi kurang kompetitif. Eka Sari ingin membuat industri transportasi Tanah Air menjadi kompetitif dan memiliki sistem yang lebih efisien. Untuk itu, dibutuhkan banyak ahli logistik. Hal inilah yang mendorong dia membuat program Eksekutif MBA tersebut.

Menurut Eka Sari, adanya pendidikan formal berupa sekolah logistik akan menciptakan individu yang paham soal logistik. Mereka diharapkan akan memberikan nilai tambah kepada industri.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat menuturkan pemerintah mendukung dengan mendorong industri mengirim orang-orangnya untuk belajar. Ini merupakan kesempatan belajar di dalam negeri dengan mengadopsi pengetahuan dari luar negeri.

Syarif yakin pebisnis yang memiliki pengetahuan logistik cukup akan mampu berbuat banyak terkait dengan pengaturan logistik. "Kami mendukung, apalagi infrastruktur lagi digenjot."

DIKO OKTARA



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan