Sinyal HP Kecil Akibat Migrasi TV Digital Lambat? Ini Kata BRTI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempo/Gunawan Wicaksono

    Tempo/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Agung Harsoyo membantah anggapan bahwa dua tahun ke depan sinyal HP makin kecil sehingga masyarakat Indonesia tidak bakal bisa menelpon, chatting, hingga berselancar di internet apabila migrasi dari televisi analog ke digital tidak kunjung terlaksana. "Informasinya kacau," kata dia kepada Tempo, Kamis, 14 September 2017.

    Baca juga: Dua Tahun lagi, Sinyal HP Kian Sulit Didapat

    Menurut dia, aktivitas itu masih bisa dilakukan, hanya saja akan sedikit terganggu lantaran harus berebut jaringan dengan pengguna internet yang jumlahnya terus membengkak setiap waktu. Memang, dia mengakui adanya migrasi ke televisi digital akan membuat penggunaan spektrum menjadi lebih efisien.

    Dia menjelaskan itu kaitannya dengan kebutuhan bandwith antara televisi analog dan televisi digital. Dia mencontohkan sebuah tv analog membutuhkan bandwith sebesar 8 megahertz untuk satu siaran tv di satu stasiun. Apabila ada 10 stasiun, maka kebutuhannya menjadi 80 megahertz.

    Sementara dengan lebar pita yang sama, tv digital bisa memutar 10 siaran sekaligus. Sehingga apabila diterapkan, maka kebutuhan bandwith masih terpenuhi, bahkan masih bersisa. "Secara hitung-hitungan kita bisa memperoleh digital dividen," ujar dia. Sementara, sisanya bisa digunakan untuk menggelar mobile broadband. Agung berujar kalau kebutuhan bandwith itu terpenuhi, maka masyarakat bisa menggunakan layanan tanpa gangguan.

    Komisioner BRTI lainnya, Imam Nashiruddin berujar salah satu frekuensi yang sangat dibutuhkan dan telah digunakan oleh banyak negara adalah 700 megahertz lantaran merupakan frekuensi yang paling ideal untuk menggelar mobile broadband dengan jangkauan yang jauh dan kapasitas atau kecepatan tinggi.

    "Di negara kita frekuensi tersebut sayangnya masih belum bisa digunakan karena penyiaran Free to Air TV di Indonesia masih menggunakan teknologi analog yang membutuhkan bandwith yang besar sekali sehingga kurang efisien," kata dia.

    Migrasi ke tv digital, kata dia, membuat sisa bandwith itu bisa dipergunakan untuk menggelar broadband yang lebih cepat dan luas lagi ke seluruh penjuru tanah air. Ditambah, pertumbuhan trafik di Indonesia cukup besar.

    "Ini sudah mencapai economy of scale karena sudah banyak tersedia di smartphone dan perangkat jaringan yang sudah tersedia banyak secara komersial," kata dia. Dampak yang dihasilkan, kata dia, biaya penggelaran bakal lebih murah dan bisa lebih terjangkau bagi masyarakat.

    Dia berpendapat, negara juga bakal diuntungkan dengan pendapatan tambahan PNBP yang jauh lebih besar dibandingkan apabila hanya digunakan untuk TV Analog seperti saat ini.

    Sebelumnya, Direktur Penyiaran Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Geryantika Kurnia berujar dalam dua tahun ke depan, orang Indonesia sulit menggunakan telepon seluler karena sinyal yang semakin lemah. "Kita enggak bisa telepon, chating, whatsapp, surfing, karena kebutuhan broadband sudah habis dipakai oleh siaran TV analog," kata kata dia dalam Focus Group Discussion Fraksi Partai Hanura di Gedung DPR, Kamis, 14 Agustus 2017.

    Menurut Gerry, seharusnya siaran televisi segera migrasi ke digital yang lebih hemat bandwith tidak seperti analog saat ini. Namun sampai saat ini, Rancangan Undang-Undang Penyiaran yang menjadi dasar migrasi siaran TV analog ke digital belum juga disahkan.

    RUU yang diajukan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat masih berada di Badan Legislasi (Baleg). Menurut Ketua Fraksi Hanura Nurdin Tampubolon, draft RUU itu seharusnya hanya 20 hari kerja berada di Baleg untuk proses harmonisasi. "Tapi sampai sekarang sudah delapan bulan," kata Nurdin dalam FGD tersebut.

    Menurut Nurdin, negara menghambur-hamburkan uang untuk pengelola televisi analog akibat menunda migrasi digital atau analog switch off (ASO). Indonesia termasuk 2 persen dari negara di dunia yang belum melaksanakan ASO. Sisanya, 98 persen sudah lama atau sedang dalam proses ASO. "Padahal, negara ini dibiayai dengan utang. Masak uangnya dihambur-hamburkan untuk TV analog?" katanya. Lambatnya migrasi ke TV digital, membuat jatah bandwith untuk sinyal HP dan internet jadi termakan oleh televisi analog.

    CAESAR AKBAR| NUR HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.