Atasi Keluhan Penumpang, Angkasa Pura Uji Coba Aplikasi Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang mengantre untuk mengambil barang di tempat pengambilan bagasi di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, 18 Juni 2017. PT Angkasa Pura I Bandar Udara Ahmad Yani memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2017 akan terjadi pada H-2 Lebaran. ANTARA/Aji Styawan

    Penumpang mengantre untuk mengambil barang di tempat pengambilan bagasi di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, 18 Juni 2017. PT Angkasa Pura I Bandar Udara Ahmad Yani memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2017 akan terjadi pada H-2 Lebaran. ANTARA/Aji Styawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) membuat aplikasi yang membantu masyarakat menggunakan jasa pengangkut barang di bandara. Aplikasi yang diberi nama Airport Helper tersebut akan diuji coba pertama kali besok, Minggu, 10 September 2017.

    “Nanti aplikasinya mungkin akan berbentuk seperti aplikasi pemesanan ojek online. Jadi nanti pelanggan bisa memberikan rating dan nilai kepada petugas yang membantu,” kata Brand Communication Manager PT Angkasa Pura II, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho saat dihubungi Tempo, Sabtu, 9 September 2017.

    Pembuatan aplikasi airport helper merupakan tindak lanjut dari keluhan masyarakat yang merasa kesulitan menggunakan jasa petugas pembantu bandara tersebut. Bahkan pada Jumat, 8 September 2017 sempat beredar video di media sosial tentang personel airport helper yang terkesan tidak mempedulikan penumpang pesawat dengan banyak barang bawaan.

    “Saya mengapresiasi tindakan penumpang yang merekam dan memviralkan video tersebut, ini jadi evaluasi untuk ke depannya. Karena alasan keluhan itu juga aplikasi ini akhirnya dibuat,” ujar Dewandono.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu faktor penumpang tidak menggunakan jasa Airport Helper, yakni karena ketidaktahuan penumpang mengenai jasa tersebut.
    “Porter sudah diubah jadi Airport Helper. Penumpang sudah ditawarkan untuk dibantu oleh mereka, tapi ditolak,” ujarnya. Ia berpendapat penolakan tersebut karena ketidaktahuan penumpang bahwa jasa Airport Helper bebas biaya (no tipping).

    Ia berpendapat dengan adanya aplikasi Airport Helper, akan sangat memudahkan penumpang menggunakan jasa tersebut. Selain itu pemantauan terhadap kinerja personel Airport Helper akan lebih maksimal, karena tidak hanya supervisor, tetapi penumpang juga bisa memberikan penilaian kepada kinerja Airport Helper.

    M JULNIS FIRMANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.