Ketimpangan Ekonomi di Indonesia, Menppenas: Ada Empat Penyebab

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) mengikuti rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, 1 Agustus 2017. Dalam arahannya, Presiden menyinggung tentang tingkat komponen dalam negeri (TKDN). ANTARA/Puspa Perwitasari

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) bersama Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) mengikuti rapat tentang evaluasi Tingkat Komponen Dalam Negeri di Kantor Presiden, Jakarta, 1 Agustus 2017. Dalam arahannya, Presiden menyinggung tentang tingkat komponen dalam negeri (TKDN). ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan ada empat faktor yang menyebabkan ketimpangan ekonomi di Indonesia. Faktor pertama, kata Bambang, sulitnya akses masyarakat terhadap pelayanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan sanitasi.

    "Jadi, kalau orang enggak punya akses pendidikan, sanitasi dan rumah, bisa dipastikan mereka akan tertinggal jauh," kata Bambang di Forum Merdeka Barat, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, 8 September 2017.

    Baca: Menteri PPN: Indonesia Bebas Kemiskinan 2045

    Faktor kedua, ujar Bambang, ketimpangan pada kualitas pekerjaan. Orang yang kurang terampil, menurut dia, akan terjebak pada pekerjaan dengan produktivitas dan upah yang rendah. "Karena itu mereka jadi susah naik kelas (sosial)," kata Bambang.

    Bambang mengatakan, factor ketiga adalah ketimpangan pendapatan dan aset. Timpangnya pendapatan menyebabkan kekayaan terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat. Dia mengatakan fenomena ini terjadi di banyak negara.

    "Ketimpangan yang paling tinggi itu di Cina, yaitu 0,5. Tapi bedanya koefisien ini di negara maju tidak terlalu dipermasalahkan, karena golongan terbawah di negara itu sudah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya," ujar Bambang.

    Baca juga: Bappenas: Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Berkurang

    Faktor keempat, Bambang menambahkan, ketiadaan jaring pengaman saat terjadi guncangan, atau ketiadaan jaminan sosial. Bambang menuturkan, orang bisa tiba-tiba jatuh miskin karena sakit, ketidakpastian pekerjaan, atau kenaikan harga serta bencana alam. "Jangan lupa Indonesia ini sangat rentan terhadap bencana alam," ucap Bambang.

    ROSSENO AJI NUGROHO

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.