Asma Nadia: Tere Liye Jadi Martir Buat Penulis Lain

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asma Nadia. tokoasmanadia.com

    Asma Nadia. tokoasmanadia.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penulis Best Seller  Asma Nadia mengucapkan rasa terima kasih kepada penulis buku Tere Liye yang telah berani bersuara perihal tingginya pajak royalti bagi penulis buku. Pendiri Rumah Baca Asma Nadia itu mengatakan, Tere telah mewakili suara-suara penulis lain di Indonesia.

    Baca juga: Begini Hitung-Hitungan Pajak yang Dikeluhkan Tere Liye

    “Dia jadi martir kan. Dia pasang badan buat teman-teman penulis,” kata Asma saat ditemui Tempo, di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis 7 September 2017.

    Meskipun berterima kasih, Asma mengaku dirinya sedih dengan keputusan yang diambil Tere yaitu berhenti menerbitkan buku. Karena Tere  berhenti menulis buku, maka akses masyarakat terhadap tulisan-tulisan Tere akan semakin terbatas.

    “Kalau dia tidak lagi menulis di buku maka mereka yang selama ini tidak bisa mengakses ke internetnya akan kehilangan,” kata Asma.

    Asma mempertanyakan kebijakan pemerintah terkait pajak penghasilan bagi penulis sebesar 15 persen. Menurut Asma, besaran pajak tersebut tidak sebanding dengan pengawasan pemerintah terhadap maraknya pembajakan buku. Ia mengecam pembiaran pemerintah akan menjamurnya buku bajakan di toko dan media daring.

    “Perlindungan terhadap para penulis dari pembajakan masih minim. Kalau ada pajak, tolong hak cipta dan kreativitas dari teman-teman penulis dilindungi,” kata Asma.

    Baca juga: Kasus Tere Liye, Penerbit: Pajak Buku Mahal, Hiburan Tidak kena

    Pemilik Asma Nadia Publishing House itu mengeluhkan ketidakadilan pemerintah yang menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.010/2015 tentang kriteria jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenai pajak pertambahan nilai. Tetapi untuk industri penerbitan buku malah pajaknya besar. Menurut penulis kelahiran 26 Maret 1972 itu, seharusnya pajak untuk buku bisa lebih rendah karena buku mencerdaskan masyarakat.

    Menurut Pendiri Forum Lingkar Pena tersebut, pajak untuk penulis tidak sebanding dengan yang dikenakan bagi pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM). Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, pengusaha UKM hanya mendapatkan pajak satu persen. Sedangkan untuk penulis dengan hanya mendapatkan keuntungan Rp 200 ribu saja sudah harus dipotong pajak.
     

    Buku karya Tere Liye (facebook.com)

    “Pajak satu persen buat pengusaha UKM, dan penulis 15 persen, itu gimana?” kata penulis buku Assalamualaikum Beijing tersebut.

    Kawan-kawan Asma yang juga merupakan penulis sudah banyak yang mengeluh kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan. Tetapi adik penulis Helvy Tiana Rosa itu mengatakan tidak ada tanggapan serius dari pemerintah dan  kepengurusannya berbelit-belit.

    Asma mengimbau pemerintah untuk menurunkan pajak di industri buku. Menurut ibu tiga anak tersebut,  jika pajak industri penerbitan buku dicabut, maka harga buku akan menjadi lebih murah. “Bayangkan kalau itu dihilangkan itu harga buku akan jauh lebih turun dan banyak orang yang membeli buku,” kata Asma.

    Sebelumnya diberitakan Novelis Tere Liye mengeluhkan pajak penghasilan penulis yang dinilianya terlampau tinggi dibandingkan dengan pengusaha maupun profesi lainnya. “Kalian harus sopan sekali kepada penulis buku, karena dia membayar pajak lebih banyak dibanding kalian semua,” ujar Tere dalam laman Facebooknya, Selasa, 5 September 2017.

    ALFAN HILMI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.