Turunnya Harga Bawang Merah Picu Deflasi Agustus 2017

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengumumkan Berita Resmi Statistik bersama Direktur Statistik Distribusi Anggoro Dwitjahyono dan Direktur Statistik Harga Yunita Rusanti di Kantor Pusat BPS, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 2 Juni 2017. TEMPO/Destrianita

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengumumkan Berita Resmi Statistik bersama Direktur Statistik Distribusi Anggoro Dwitjahyono dan Direktur Statistik Harga Yunita Rusanti di Kantor Pusat BPS, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 2 Juni 2017. TEMPO/Destrianita

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto mengatakan deflasi 0,07 persen pada Agustus 2017 sangat dipengaruhi oleh komponen pengeluaran masyarakat. Di antaranya yang paling signifikan adalah bahan makanan, transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

    "Untuk kelompok bahan makanan, terjadi deflasi 0,67 persen. Ada beberapa komoditas, yang pertama terjadi penurunan harga yang cukup tinggi harga bawang merah itu minus 11,79 persen sehingga andilnya kepada deflasi 0,07 persen, yang kedua adalah bawah putih minus 13,70 persen andilnya terhadap deflasi 0,05 persen," kata Suhariyanto, Senin 4 September 2017.

    Simak: BPS Catat Deflasi 0,07 Persen pada Agustus 2017

    Berikutnya disusul oleh harga ikan segar dan sayuran seperti tomat dan cabai rawit masing-masing 0,02 persen, sayuran seperti bayam, wortel, kelapa dan sebagainya memiliki andil 0,01 persen. Dengan begitu andil bahan makanan terhadap deflasi Agustus 2017 sebesar 0,14 persen.

    Menurut data BPS, terdapat beberapa komoditas yang masih menunjukan kenaikan, seperti cabai merah pada Agustus 2017 inflasi 0,92 persen dengan andil pada inflasi 0,04 persen, harga garam rata-rata naik 26,22 persen, bahkan di Gorontalo 150 persen memiliki andil 0,02 persen terhadap inflasi Agustus 2017. "Daging ayam ras, telur ayam ras dan beberapa buah-buahan seperti anggur semangka, masing-masing 0,01 persen," kata Suhariyanto.

    Sedangkan sumbangan deflasi terbesar kedua, kata Suhariyanto, berasal dari transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan adalah 0,60 persen dengan andil pada deflasi Agustus sebesar 0,10 persen. Terjadi penurunan indeks dari 129,54 persen pada Juli 2017 menjadi 128,76 pada Agustus 2017. "Tarif angkutan udara mengalami penurunan harga minus 8,39 persen dan memberikan andil 0,10 persen."

    Selain itu adalah tarif angkutan antar kota yang memberikan andil 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan inflasi pada komponen ini hanya ada satu, yaitu adanya kenaikan tarif pulsa ponsel memiliki andil 0,01 persen.

    Sementara itu, untuk makanan jadi, minuman dan rokok mengalami inflasi sebesar 0,26 persen pada Agustus 2017 yang memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan adalah nasi dengan lauk pauk, rokok kretek, dsn rokok filter masing-masing memiliki andil 0,01 persen.

    Perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi 0,10 persen dengan andil 0,03 persen pads Agustus 2017. Kelompok sandang mengalami inflasi 0,32 persen yang memberi andil pada inflasi Agustus 2017 sebesar 0,01 persen. Adapun kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,20 persen yang memberikan sumbangan pada inflasi 0,01 persen. "Pendidikan, rekreasi, dan olahraga terjadi inflasi sebesar 0,89 persen dan sumbangannya paling besar, yaitu 0,07 persen," kata Suhariyanto.

    Berbeda dengan deflasi, ada beberapa komoditas yang dominan memberikan inflasi pada kelompok ini adalah uang sekolah SD dan SMA 0,02 persen. Uang sekolah SMP dan tarif rekreasi yang masing-masing naik 0,01 persen.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.