PU: Pengendali Banjir Sungai Kuranji Padang Rampung Bulan Depan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga berpegangan pada sebuah tali saat banjir bandang, di Kelurahan Limaumanis, Kecamatan Pauh, Padang, Sumbar, Selasa (24/7) malam. Banjir bandang di sekitar bantaran Sungai Limaumanis dan Batangkuranji  tersebut membawa material kayu dan membuat puluhan rumah rusak. ANTARA/Iggoy el Fitra

    Seorang warga berpegangan pada sebuah tali saat banjir bandang, di Kelurahan Limaumanis, Kecamatan Pauh, Padang, Sumbar, Selasa (24/7) malam. Banjir bandang di sekitar bantaran Sungai Limaumanis dan Batangkuranji tersebut membawa material kayu dan membuat puluhan rumah rusak. ANTARA/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan pembangunan pengendali banjir dan sedimen atau disebut cek dam Sungai Batang Kuranji Segmen Tengah, Kota Padang, rampung bulan depan. “Saat ini progress 96 persen,” ujar Kepala Badan Wilayah Sungai V Sumatera, Maryadi Utama dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tempo, Ahad, 3 September 2017. “Target selesai diperkirakan pada akhir Oktober 2017.”

    Proyek itu terdiri dari lima cek dam dengan anggaran sebesar Rp 238 miliar. Adapun cek dam yang dibangun memiliki panjang 2,2 km dan lebar 35-75 meter. Pembangunan cek dam itu merupakan fase pertama dari tiga fase rencana pengendali banjir Sungai Kuranji.

    Maryadi menjelaskan, fase kedua saat ini dalam tahap persiapan yakni pembangunan tujuh cek dam di hulu sungai dengan biaya sebesar Rp 246 miliar. “Yang dilaksanakan selama 4 tahun anggaran," ujarnya. Fase terakhir yaitu pekerjaan segmen hilir untuk menangani banjir akibat anak-anak sungai dari Batang Kuranji yang ditargetkan rampung pada tahun 2020.

    Pembangunan cek dam fase pertama dimulai pada tahun 2015 oleh BWS V Sumatera Direktorat Jenteral Sumber Daya Air Kementerian PUPR, untuk mengantisipasi terulangnya kejadian banjir Kota Padang akibat meluapnya Sungai Batang Kuranji yang kondisinya mengalami sedimentasi.

    Dalam kesempatan terpisah, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono berujar perubahan iklim menjadi tantangan dalam pengelolaan SDA di Indonesia. "Pergeseran dan perubahan masa musim hujan dan kemarau, perubahan temperatur, cuaca, serta pola hujan cenderung durasinya lebih pendek namun dengan intensitas yang tinggi sehingga kerap mengakibatkan banjir," kata dia.

    Oleh karena itu, untuk mengendalikan daya rusak air tersebut, pada kurun waktu 2015-2019 Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 3.000 km sarana dan prasana pengendali banjir di seluruh daerah rawan banjir di Indonesia.

    Seperti diketahui, belasan ribu rumah di Kota Padang terendam banjir pada pertengahan Maret 2016. Ketinggian air mencapai 2 meter. "Sekitar 11.500 rumah terendam. Tapi kami masih melakukan assessment," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang Dedi Henidal, Selasa, 22 Maret 2016.

    Dedi menjelaskan, banjir terjadi karena hujan deras yang mengguyur kota itu selama delapan jam. Akibatnya, sejumlah sungai meluap, seperti Batang Kuranji. Menurut Dedi, banjir terjadi di lima kecamatan, yakni Koto Tangah, Nanggalo, Kuranji, Padang Barat, dan Padang Utara. "Yang terparah di Nanggalo, Kuranji, dan Koto Tangah. Ada 5.000 korban," ujarnya.

    CAESAR AKBAR | ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.