GAPKI Diundang PBB Untuk Bicara Perkembangan Sawit di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono (tengah) saat Menyampaikan Keterangan Pers di Kantor Pusat GAPKI Jakarta, 31 Januari 2017. Tempo/Tongam sinambela

    Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono (tengah) saat Menyampaikan Keterangan Pers di Kantor Pusat GAPKI Jakarta, 31 Januari 2017. Tempo/Tongam sinambela

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan akan menghadiri undangan undangan Program Pembangunan Persatuan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Markas PBB di New York, Amerika Serikat. Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mengatakan dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut pihaknya akan membahas perkembangan sektor kelapa sawit di Indonesia.

    "Kami akan menjadi pembicara pada 6 September mendatang untuk menjelaskan sikap dan posisi duia usaha terkait isu-isu keberlanjutan di sektor pendulang devisa negara terbesar tersebut," kata Joko seperti dikutip dari Antara, Sabtu, 2 September 2017.

    Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sejumlah pertemuan dengan para pemangku kepentingan selama kunjungan ke Amerika Serikat. Adapun, undangan UNDP akan menggagas diskusi tentang isu keberlanjutan di sejumlah sektor ekonomi di negara berkembang. Selain perwakilan Indonesia, ada perwakilan pemerintah dan dunia usaha dari Brazil dan Liberia.

    Joko mengatakan kelapa sawit menjadi sektor strategis di Indonesia dengan sumbangan devisa mencapai 18,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp240 triliun. Menurutnya, tata kelola perkebunan kelapa sawit harus berkelanjutan.

    "Sektor kelapa sawit menyerap lebih dari 5 juta tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah-wilayah pinggiran."

    Joko menambahkan pemerintah dan negara lain juga sudah berkoordinasi untuk mengatasi kebakaran hutan sepanjang tahun ini. Sejauh ini, tidak ada lagi laporan adanya titik api dari dalam konsesi perusahaan. "Seluruh anggota GAPKI pun juga ikut membantu memadamkan api di luar konsesi perusahaan," ucapnya.

    Selama ini, negara-negara Uni Eropa dan Amerika menyoroti tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Namun, permintaan minyak sawit dari kedua wilayah tersebut terus meningkat. Pada semester I tahun 2017, ekspor ke Uni Eropa mencapai 2,7 juta ton atau meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,9 juta ton.

     IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.