BI: Bunga Deposito Lebih Cepat Turun Ketimbang Bunga Kredit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Agus DW Martowardojo, resmikan penerbitan uang NKRI pecahan seratus ribu rupiah di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 18 Agustus 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Gubernur BI Agus DW Martowardojo, resmikan penerbitan uang NKRI pecahan seratus ribu rupiah di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 18 Agustus 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan, penurunan bunga deposito lebih cepat ketimbang bunga kredit. “Bunga kredit kira-kira baru turun 75 persen dari 150 basis poin. Bunga masih ada di rata-rata 11,5 persen,” kata Agus seusai menyaksikan pemotongan hewan kurban di lingkungan Bank Indonesia, Jumat, 1 September 2017.

    Agus Marto memaparkan, dari setiap ada penurunan BI seven days repo rate, biasanya akan ditransmisikan ke bunga kredit atau bunga deposito selama 2 sampai 3 kuartal berikutnya. Dari catatannya, bank sentral sejak 1 Januari 2016 lalu sudah menurunkan bunga acuan 150 basis poin dan dilanjutkan penurunan 25 basis poin lagi atau secara total suku bunga acuan telah turun 175 basis poin.

    Lebih jauh, Agus Marto menyatakan, selama pertumbuhan kredit perbankan ada di bawah dua digit, maka bank sentral perlu memberi perhatian ekstra. BI sebelumnya memprediksi pertumbuhan kredit di tahun 2017 berkisar di angka 10 sampai 12 persen.

    Tapi belakangan proyeksi itu dikoreksi karena BI memperkirakan pertumbuhan kredit di kisaran 8 sampai 10 persen. “Dan itu konsisten dengan kondisi terakhir year on year, kan pertumbuhan kreditnya hanya 8 persen,” kata Agus.

    Dengan begitu, BI berharap sampai akhir tahun pertumbuhan kredit ada di kisaran 8 sampai 10 persen. Namun untuk di 2018, BI optimistis pertumbuhan kredit bisa mencapai 10 - 12 persen dan pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 9 - 11 persen.

    Meski pertumbuhan kredit masih lamban, Agus Marto tetap yakin pertumbuhan pendanaan dari pasar modal sangat baik. Dari 1 Januari sampai 31 Juli, pertumbuhan dana dari pasar modal kisaran Rp 170 triliun. Sebagian besar dana itu atau sekitar 53 persen di antaranya dalam bentuk obligasi korporasi.

    Fenomena itu, kata Agus Marto, merupakan suatu hal yang wajar. “Kalau tingkat bunga sudah mulai lebih rendah, masyarakat memanfaatkan pendanaan dari pasar modal,” tuturnya.

    Lebih jauh Agus Marto menilai industri perbankan Indonesia perlu meningkatkan efisiensi. Caranya dengan menekan biaya overhead dan net interest margin-nya agar bisa mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi.

    Selama ini, menurut Agus Marto, perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi telah menjalankan praktek bisnisnya di industri keuangan secara sehat. “Responsnya dengan menyesuaikan tingkat bunga kredit maupun dana pihak ketiga.”

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.