Laju Rupiah Berpotensi Terhambat Pertemuan Bank Sentral Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    Ilustrasi Rupiah Dollar. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta -Analisis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada laju Rupiah yang mencoba bertahan positif hari ini berpotensi terhambat. Kurs rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran support Rp 13.362 dan resisten Rp 13.280.

    Reza mengatakan sentimen negatif terhadap laju rupiah berasal dari pertemuan tahunan yang dihadiri gubernur bank sentral utama dunia pada 24-26 Agustus 2017 di Jackson Hole Wyoming, Amerika. Acara tersebut digelar oleh Federal Reserve (The Fed).

    Reza memperkirakan, pelaku pasar akan lebih terfokus pada penyampaian pandangan moneter dari European Central Bank dan The Fed dalam acara tersebut. "Dampaknya kemungkinan dapat membuat mata uang EUR dan USD akan kembali fluktuatif," kata dia seperti dilansir keterangan tertulis, Jumat, 25 Agustus 2017. 

    Baca: Aksi Beli Pelaku Pasar Jaga Rupiah di Level Rp 13.354

    Spekulasi pembelian kedua mata uang itu dapat terjadi sehingga berpeluang menghambat potensi kenaikan sejumlah mata uang lainnya lebih lanjut. Rupiah yang mencoba bertahan positif untuk sementara ini juga menghadapi kemungkinan yang sama.

    Peluang apreasiasi rupiah muncul dari imbas melemahnya dolar Amerika. Laju dolar AS melemah setelah merespons komentar Presiden Donald Trump yang mengancam akan memberhentikan operasional pemerintahan Amerika jika rencana pembangunan tembok pembatas Amerika-Meksiko tidak disetujui.

    Sementara itu dari dalam negeri sejumlah sentimen positif mempengaruhi laju penguatan kurs rupiah. Sentimen tersebut antara lain perkiraan Bank Indonesia yang menyatakan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh 5,3 hingga 5,7 persen pada 2019.

    Selain itu, pertumbuhan kredit hingga Juli 2017 mencapai 8,20 persen,termasuk juga pada dana pihak ketiga dan penghimpunan dana melalui asuransi yang juga meningkat. Penetapan satu harga bahan bakar minyak di wilayah timur Indonesia untuk mengurangi kesenjangan dan kenaikan inflasi juga menjadi sentimen positif.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.