Senin, 19 Februari 2018

Alasan di Balik Pergantian Direksi Pertamina

Oleh :

Tempo.co

Rabu, 16 Agustus 2017 14:58 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alasan di Balik Pergantian Direksi Pertamina

    Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik. MARIA FRANSISCA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno menambah dua orang direksi  di PT Pertamina (Persero). Dengan demikian, Pertamina kini  punya 10 direksi dari semula delapan.

    Kedua direksi baru itu yakni  Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko, Gigih Prakoso, dan Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia, Ardhy Mokobombang.

    Direktur Utama  Pertamina Elia Massa Manik mengatakan perombakan direksi di  Pertamina merupakan hasil keputusan pemegang saham. "Keputusan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham ada beberapa pergantian direktur," katanya di Gedung Pertamina, Jakarta, 16 Agustus 2017.

    Menurut Massa, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia yang sebelumnya dijabat Rachmad Hardadi, digeser Ardhy N. Mokobombang. Sebelumnya, Ardhy menjabat sebagai SPV di bagian Direktur Pengolahan.

    Pengangkatan kedua direktur baru PT Pertamina itu tertuang dalam salinan surat keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-160/MBU/08/2017, tentang Pemberhentian, Perubahan Nomenklatur Jabatan, Pengalihan Tugas, dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pertamina.

    Menurut Massa, perubahan susunan direksi Pertamina sesuatu hal yang wajar terjadi di setiap perusahaan. "Pergantian personil dalam suatu perusahaan sering terjadi," ujarnya dalam keterangan tertulis.

    Menurut Massa, setiap perusahaan juga mengalami hal yang sama. "Kunci keberhasilan korporasi ada di human resource-nya. Kami berharap manusia ini menjadi modal. Sebab, modall yang paling tinggi (adalah) manusianya."

    IMAM HAMDI


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    JR Saragih dan 4 Calon Kepala Daerah Terganjal Ijazah dan Korupsi

    JR Saragih dicoret dari daftar peserta pemilihan gubernur Sumut oleh KPU karena masalah ijazah, tiga calon lain tersandung dugaan korupsi.