Senin, 20 Agustus 2018

Sukses Uji Terbang Perdana, Ini Keunggulan Pesawat N219

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat N219  terbang perdana di  Bandung, Jawa Barat, 16 Agustus 2017. Pesawat buatan PT Dirgatara Indonesia dan LAPAN ini terbang sekitar 20 menit di atas langit Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    Pesawat N219 terbang perdana di Bandung, Jawa Barat, 16 Agustus 2017. Pesawat buatan PT Dirgatara Indonesia dan LAPAN ini terbang sekitar 20 menit di atas langit Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesawat N219 PT Dirgantara dan LAPAN berhasil melakukan terbang perdana di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Sebelumnya pesawat yang oleh mantan presiden Habibie disebut pesawat mainan ini sudah melakukan uji lainnya antara lain uji kelistrikan di landasan, uji kebocoran, uji kebersihan untuk tangki bahan bakar.

    Pesawat N219 mulai dikembangkan oleh PT DI sejak 2006, agar dapat diterbangkan dalam berbagai misi. Pesawat sekelas dengan Twin Otter ini dapat memenuhi kebutuhan militer sebagai pesawat angkut pasien, kargo, atau pengintai. Tempo mencatat ada dua keunggulan besar pesawat N219 yang dapat memikat pembeli.

    Teknologi Lebih Unggul
    Latar belakang pengembangan pesawat N219 menurut Direktur Utama PT DI, Budi Santoso untuk membuka keterisolasian jalur penerbangan. Selain itu sebagai upaya mempersatukan semua wilayah yang ada di Indonesia.

    Ia memberi contoh daerah Sulawesi Selatan, yang terdiri atas kepulauan dan pegunungan, masih memiliki banyak kawasan yang belum bisa dijangkau oleh pesawat. "Kalau pemerintah memiliki pesawat ini, maka daerah ini selangkah lebih maju dari provinsi lainnya," ucap Budi kepada Tempo 1 Maret 2012 silam.

    Tidak heran pesawat N219 bisa dikatagorikan pesawat perintis karena bisa mendarat di landasan pacu 600 meter saja. Sementara pesaing pesawat sejenis seperti DHC-6 Twin Otter juga bisa mendarat di landasan 600 meter namun kapasitasnya lebih kecil. Sedangkan Casa C-212 minimal dapat mendarat di landasan 800 meter.


    Keunggulan lainya, pesawat N219 menerapkan teknologi tahun 2000-an. Berbeda dengan pesaingnya yang masih beroperasi namun teknologi sudah uzur. Pesawat Twin Otter yang beroperasi di Indonesia masih menggunakan teknologi mesin 1960. Sementara N219 menggunakan teknologi yang paling mutakhir. Chief Engineering Pesawat N219 Palmana Banandhi kepada Tempo pernah mejelaskan keunggulan teknologi N219.

    "Dari sisi aerodynamic menggunakan teknologi tahun 90-an. Karena kita menggabungkan antara teknologi air foil CN 235 dan N250 sehingga secara teknologi ini lebih unggul," ujar Palmana Oktober 2015 lalu.

    Laku Di Pasaran
    Lion Mentari Airlines pada Agustus 2013 lalu berencana memesan 50 unit N219 yang akan digunakan untuk rute perintis di Indonesia. Tahun yang sama PT Nusantara Buana Air (NBA) juga memesan pesawat N219 sebanyak 20 unit. Selain perusahaan swasta, pemerintah daerah juga ikut memesan pesawat N219. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana pada Desember 2015 mengungkapkan pemda Aceh dan Papua sudah memesan lebih dari 10 unit.

    PT Air Born Indonesia, perusahaan patungan Indonesia dengan Malaysia juga ikut memesan delapan unit pesawat yang dapat mengangkut 19 penumpang ini. “Kami sudah menandatangani LoI (Letter Of Intent), dan harganya sudah kami sepakati, dan itu kompetitif,” kata Direktur Utama PT Air Born Indonesia Rull De Leon Nacachi Desember 2015.

    Jumlah pesanan itu bisa terus bila pesawat N219 sudah terbang. Direktur Utama Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengklaim telah menerima 200 letters of intent. Namun Budi belum mau membuatkan kontrak jual beli. "Saya belum mau membuat kontrak sebelum pesawatnya bisa terbang," kata dia di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis, 2 Maret 2017.

    EVAN | PDAT (Sumber Diolah Tempo)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Fakta Pembukaan Asian Games 2018

    Pembukaan Asian Games 2018 yang spektakuler menuai pujian dari warganet. Ini fakta-faktanya.