Ini Hasil Riset Google Soal Perilaku Belanja Online di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja online. Pexels.com

    Ilustrasi belanja online. Pexels.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertumbuhan penduduk Indonesia yang mulai berbelanja secara online atau e-commerce terus meningkat. Berdasarkan hasil riset Google dan lembaga riset pasar asal Jerman, GfK, berbelanja online merupakan sesuatu yang sudah umum di Indonesia

    Bahkan, menurut Google angkanya mencapai 81 juta jiwa dari total pengguna internet yang mencapai 100 juta jiwa di Indonesia. "Sekarang belanja online tidak hanya dilakukan penduduk di kota-kota besar. Warga daerah juga sudah mulai melakukan transaksi belanja online," kata Country Industri Head Google Indonesia Hengky Prihatna, Selasa, 15 Agustus 2017.

    Mengembangkan bisnis belanja online ini, menurut Hengky, merupakan peluang usaha baru untuk menggerakkan roda perekonomian. Berdasarkan hasil riset tersebut, Google merumuskan hal penting bagi konsumen online dan pelaku usaha dalam menjalankan bisnis e-commerce untuk menari berbagai kelompok konsumen.

    Berikut temuan Google dalam bisnis belanja online di Indonesia :
    1. Secara umum konsumen Indonesia mulai beralih metode pembayaran. Sekarang dengan semakin seringnya mereka berbelanja online, konsumen sudah mulai beralih dari bayar di tempat ke internet banking atau transfer ATM.
    2. Inovator (pendapatan lebih tinggi, banyak perangkat) : 64 persen dari hasil riset Google menemukan orang lebih suka mendapatkan info langsung dari toko online. Sementara, 74 persen tertarik membeli dengan harga murah.
    3. Early adopters (pendapatan lebih rendah, banyak perangkat) : 46 persen orang lebih suka mencari secara online menggunakan mesin telusur sementara 66 persen dapat terpikat dengan harga murah.
    4. Gaptek (pendapatan lebih tinggi, satu perangkat) : 36 persen lebih suka mendapatkan info langsung dari merk, tetapi lebih memilih membayar melalui ATM.
    5. Late blommers (pendapatan lebih rendah, satu perangkat) : 58 persen mementingkan kemudahan dan 74 persen sangat mengutamakan harga murah.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.