Luhut: Tak Masalah Freeport Sampai 2041, Tapi Ada Syaratnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Truk pengangkut galian tambang di tambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia, 2000 .Rully Kesuma/ TEMPO

    Truk pengangkut galian tambang di tambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia, 2000 .Rully Kesuma/ TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan tak ada masalah jika Freeport menginginkan perpanjangan kontrak sampai 2041. Asalkan syarat divestasi saham 51 persen milik pemerintah Indonesia dipenuhi oleh Freeport.

    "Saya kira kalau sudah 51 persen bukan masalah (diperpanjang) sampai 2041," kata Luhut Pandjaitan saat ditemui di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta Pusat, Senin, 14 Agustus 2017.

    Baca: Freeport Indonesia Tetap Diwajibkan Lepas 51 Persen Saham

    Luhut menuturkan saat ini Freeport memang meminta perpanjangan kontrak sampai 2041. Kontrak mereka yang saat ini berlaku diketahui akan segera berakhir pada 2021 nanti, dan saat ini pemerintah dan Freeport tengah melakukan negosiasi soal perpanjangan kontrak itu.

    Menurut Luhut perusahaan asal Amerika Serikat itu sudah bersedia melakukan divestasi saham sebesar 51 persen dan bersedia pula membangun smelter di dalam negeri. "Hanya hukum di Indonesia mengatakan itu 10 tahun dulu (perpanjangannya)."

    Simak: Renegoisasi Kontrak Freeport, Ini Tawaran Kementerian Keuangan

    Ketika ditanyakan soal valuasi, Luhut menjawab biar market saja yang menentukan. Mengenai apakah cadangan di tambang yang sekarang menjadi tempat beroperasi Freeport juga akan dihitung, ia memastikan hal itu tidak dilakukan.

    Alasannya cadangan tambang yang belum digali itu belum diketahui angka pastinya. Luhut menjelaskan pemerintah tahu bagaimana cara menghitung hal seperti ini. "Masa yang di bawah tanah kau hitung belum ketahuan."

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.