Menteri Darmin: Target Pertumbuhan Ekonomi Masih Realistis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berfoto di samping patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berfoto di samping patung ikon pasar modal Banteng Wulung yang di halaman gedung BEI, Jakarta Selatan, Ahad, 13 Agustus 2017. Tempo/Destrianita

    TEMPO.CO, Jakarta -  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menanggapi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan  kuartal II yang relatif datar di angka 5,01 persen. Melihat data tersebut, ia menilai masih realistis untuk
    meraih pertumbuhan ekonomi di angka 5,2 persen hingga akhir tahun.

    “Sekarang gini, sebetulnya semester II itu umumnya kegiatan ekonomi lebih tinggi dibandingkan semester sebelumnya. Ya kenapa enggak (realistis). Bisa saja bergeraknya tidak langsung 5,4 tapi kemudian makin tinggi, dan seterusnya,” kata Darmin Nasution di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin, 14 Agustus 2017.

    Menurut Darmin, ada beberapa faktor yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di paruh 2017 ini. Salah satunya, pada semester II umumnya kegiatan ekonomi lebih tinggi dibandingkan semester sebelumnya. Selain itu, banyaknya hari libur di semester I juga dianggap menjadi faktor yang mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.

    Darmin menganggap masih realistis untuk mendapatkan angka pertumbuhan ekonomi di level 5,4 persen pada semester II, sehingga secara tahunan pertumbuhan di angka 5,2 persen masih dapat diraih.

    Simak Pula: Penting, Sri Mulyani Jelaskan Pertumbuhan Ekonomi 2017 ke DPR

    “Selain itu, saya beberapa kali cerita, akhir Juni lalu waktu data dikumpulkan, itu pas puasa habis, orang sedang siap-siap mau pulang kampung, sehingga kegiatan belanjanya itu agak ditunda sama mereka untuk belanja di kampung,” ucap Darmin.

    Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik Sri Soelistyowati menambahkan, ekonomi Indonesia sebenarnya masih tetap tumbuh. Hanya saja pertumbuhannya lambat. Namun, secara nominal masih terdapat peningkatan belanja. Peningkatan tersebut disumbang dari sektor informasi dan komunikasi, jasa lainnya, dan sektor transportasi. “Tapi share ketiganya terhadap PDB hanya sekitar 11-12 persen. Itu yang membuat  pertumbuhan ekonomi lambat meski share-nya tinggi. Sebetulnya ekonomi kita, kalaupun beberapa data mengatakan konsumsinya melambat, tapi pertumbuhan masih tetap berjalan dengan baik. Yang belum tertangkap adalah beberapa kegiatan konsumsi leisure  misalnya rekreasi,” ucapnya.

    Menurut Kepala Divisi Komunikasi Bank Indonesia Agusman, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan membaik mengikuti pertumbuhan ekonomi global yang berdasarkan konsensus akan tumbuh 3,5 sampai 3,8 persen dan diperkirakan akan terus membaik di 2018. “Mudah-mudahan kalau di global ini baik, tentunya akan membuat ekonomi Indonesia semakin positid dengan dibarengi peningkatan ekspor,” tutur Agusman.

    Menurut Agusman, pertumbuhan ekonomi 5,01 persen terlihat sangat didukung oleh investasi bangunan dan non bangunan. Sedangkan dalam bidang konsumsi terjadi gejala perlambatan. “Kalau dibandingkan sebelumnya, retail dan kendaraan bermotor ini ada penurunan, tp mudah-mudahan kalau di 2017 semester II bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dari konsumsi ini, tentu konsumsi lebih baik,” ucap dia.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.