Dirut Bulog: Pasar Induk Bisa Menjaga Kestabilan Harga Pangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pedagang tengah memilih cabai rawit yang baru turun di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, 7 Maret 2017. Harga cabai rawit merah di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai sebesar Rp 150.000 per kilogram hal tersebut menjadi harga cabai rawit merah termahal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Para pedagang tengah memilih cabai rawit yang baru turun di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta, 7 Maret 2017. Harga cabai rawit merah di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai sebesar Rp 150.000 per kilogram hal tersebut menjadi harga cabai rawit merah termahal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menyebut pasar induk modern bakal menopang ketahanan pangan karena dapat menghubungkan petani, pelaku pasar, dan masyarakat sebagai konsumen secara langsung.

    Dirut Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, menyebutkan pembangunan pasar-pasar modern akan menjembatani para pihak yang berkepentingan, sehingga bisa membuat harga pangan lebih terjangkau.

    "Dari pasar modern ini akan terjalin komunikasi yang baik antara Bulog, pengelola pasar, dan masyarakat," ujarnya, Kamis, 10 Agustus 2017.

    Djarot mengemukakan, adanya pasar induk akan membantu tugas Bulog dalam pengelolaan harga dan distribusi bahan pokok. Pasalnya, hingga kini distribusi masih menjadi masalah paling berat dalam tata kelola pangan. Djarot juga mengatakan inefisiensi sisi distribusi juga paling sering ditemukan.

    Baca: Jokowi Resmikan Pasar Rakyat Maros Baru

    "Distribusi yang buruk akan membuat hasil panen tanaman pokok mudah rusak dan harga pun menjadi tak menentu," ujarnya.

    Munculnya pasar modern, lanjut Djarot, juga bisa mengelola rantai distribusi, menjaga ketersedian pasokan, serta keterjangkauan dan stabilisasi harga sekaligus.

    "Inefisiensi harus dibenahi karena harga pangan yang tak efisien akan memberikan kontribusi pada inflasi. Pemerintahan saat ini berhasil menekan harga pangan dan gejolak harga dalam 2,5 tahun juga karena adanya perbaikan pasar induk dan infrastruktur," tuturnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.