Sistem Pungutan Bea Cukai Online Mampu Genjot Penerimaan Negara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peluncuran penggunaan unit mini ATM Bank Mandiri di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai, di Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kalimantan Barat, Kamis, 10 Agustus 2017. (Tempo/Aseanty Pahlevi)

    Peluncuran penggunaan unit mini ATM Bank Mandiri di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai, di Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kalimantan Barat, Kamis, 10 Agustus 2017. (Tempo/Aseanty Pahlevi)

    TEMPO.CO, Sanggau - Bank Mandiri memasang 152 unit mesin mini ATM untuk pembayaran bea cukai di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai di Indonesia. Penggunaan alat ini mempercepat penerimaan negara secara real time.

    "Salah satu indikatornya,  di Bandara Ngurah Rai Bali mendapatkan penerimaan negara dari Bea dan Cukai sebesar Rp1,3 miliar dalam satu tahun pada 2016. Setelah dipasang mini ATM, jumlah yang sama didapat dalam setengah tahun ini saja," kata Kartini Sally, direktur Government and Institutional Bank Mandiri di Entikong, Kalimantan Barat, 10 Agustus 2017.

    Bali merupakan tempat perlintasan pendatang dari Australia, dan beberapa negara lainnya. Sistem online ini terbukti lebih efektif untuk menggenjot penerimaan negara. "Kami optimis, langkah ini juga akan meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajibannya terkait pembayaran cukai, pajak ekspor dan impor dan kepabeanan."

    Menurut Kartini, Kehadiran layanan Mini ATM dalam memfasilitasi pembayaran penerimaan negara di bidang kepabeanan dan cukai khususnya bagi pengguna jasa dan masyarakat di Entikong merupakan wujud konkret keseriusan Bank Mandiri dalam mensukseskan program pemerintah dalam memfasilitasi pembangunan dan pengembangan ekonomi di kawasan perbatasan NKRI.

    Kartini mengatakan, penggunaan sistem online di perbatasan merupakan salah satu bukti bahwa pemerintah hadir untuk menata negara. "Penataan perbatasan juga sebagai penyampaian pesan kepada negara tetangga, terhadap kedaulatan negara," ujarnya.

    Entikong dipilih sebagai tempat pertama kawasan perbatasan negara untuk menerapkan sistem online tersebut. Pemilihan ini, kata Kartini, karena Entikong memungkinkan potensi besar di bidang ekspor dan impor. "Transaksi semua tercatat, data lebih cepat dan penerimaan negara lebih aktual," katanya.

    Bank Mandiri tidak mengambil keuntungan terhadap sistem ini. Sebagai bank persepsi, Bank Mandiri hanya sebagai perantara. Dana langsung disetorkan ke Kas Penerimaan Negara." Bank Mandiri hanya mendapatkan data siapa pelaku bisnis, yang bisa dijajaki untuk menjadi nasabah," katanya.

    Sebagai salah satu bank persepsi Modul Penerimaan Negara Generasi kedua (MPN-G2), baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing US Dollar. Layanan perbankan perseroan juga telah dapat diakses masyarakat untuk pembayaran penerimaan negara secara online.

    Selain mini ATM, Bank Mandiri telah menambahkan fitur pembayaran cukai, pajak ekspor dan impor dan kepabeanan pada alat pembayaran non tunai Mandiri, yakni melalui layanan e-Banking (mobile banking, internet banking, ATM Mandiri, dan Mandiri Cash Management). Hal ini sejalan dengan program pemerintah terkait Gerakan Non Tunai (Cashless Society) di seluruh Kementerian dan Lembaga.

    Atas komitmen dukungan tersebut, Bank Mandiri telah memfasilitasi pembayaran penerimaan negara sebanyak 3.82 juta transaksi pada periode Januari – Juli 2017 senilai lebih dari Rp 216,83 triliun, di mana hampir 49 persen merupakan transaksi penerimaan negara terkait pajak.

    Warga Pontianak, Yanuar, 31 tahun, mengaku tidak khawatir pada ketentuan pungutan negara sistem online. "Ketentuan ini hanya untuk para pelaku usaha. Saya tetap bisa membeli oleh-oleh sepulang dari Kuching nanti," kata Yanuar di Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

    ASEANTY PAHLEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.