Pekerja JICT Mogok, Menhub: Tingkat Layanan Tidak Turun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) berunjuk rasa di depan gedung KPK, Jakarta, 17 Juli 2017. ANTARA FOTO

    Sejumlah pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) berunjuk rasa di depan gedung KPK, Jakarta, 17 Juli 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan mogoknya pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) tidak mengganggu layanan yang diberikan pelabuhan bongkar muat peti kemas tersebut. Menurut dia, persoalan itu bisa ditangani dengan baik oleh JICT.

    "Kami bisa handle. Kemarin level of service-nya juga enggak turun, enggak terganggu," kata Budi saat ditemui di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu, 9 Agustus 2017.

    Pada 3-7 Agustus, pekerja JICT melakukan aksi mogok kerja. Wakil Direktur Utama JICT Riza Erivan menyatakan perusahaannya mengalami kerugian hingga US$ 500 ribu atau sekitar Rp 6,5 juta per hari selama aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja. 

    Baca: Mogok Kerja JICT, Operasional Dialihkan ke TPK Koja

    Budi mengimbau kejadian serupa tidak terulang. JICT harus lebih tegas. "Satu pelabuhan masak kita enggak percaya diri untuk kelola? Saya pikir kita percaya diri untuk bisa kelola," katanya. Dia pun membantah ekspor-impor molor karena aksi mogok itu. "Itu ada yang provokasi aja."

    Untuk mengurangi aktivitas bongkar muat di JICT, menurut Budi, pemerintah akan membangun Pelabuhan Patimban, yang berlokasi di Jawa Barat. Targetnya, pelabuhan yang digarap pemerintah bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) itu akan beroperasi pada 2019.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?