Pekerja JICT Bantah Berhenti Mogok Kerja Karena Diancam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terminal peti kemas Koja milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT) terlihat sepi menyusul aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja JICT di Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017. (ANTARA FOTO)

    Terminal peti kemas Koja milik PT Jakarta International Container Terminal (JICT) terlihat sepi menyusul aksi mogok kerja yang dilakukan serikat pekerja JICT di Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017. (ANTARA FOTO)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Serikat Pekerja PT Jakarta Internasional Container Terminal (JICT), Nova Sofyan Hakim mengaku para pekerja mendapat surat peringatan dari direksi. Namun ia membantah adanya surat peringatan itu yang menjadi penyebab berhentinya aksi mogok kerja.

    "Para pekerja memang mendapat intimidasi dalam bentuk surat peringatan," kata Nova kepada Tempo saat dihubungi pada Selasa, 8 Agustus 2017.

    Menurut Nova, alasan aksi mogok kerja dihentikan karena mempertimbangkan kepentingan nasional yang jauh lebih besar, yaitu masalah kelancaran barang serta ekonomi secara global. Ia melihat, manajemen JICT tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan masalah ini.

    Sejak Senin  lalu, para pekerja JICT menghentikan aksi mogok kerja yang sudah berlangsung mulai   3 Agustus. Awalnya mereka berniat melakukan aksi hingga 10 Agustus, tapi berhenti pada hari kelima. 

    Nova mengatakan serikat pekerja berharap pemerintah yang diwakili Kementerian Perhubungan dan Kementerian Ketenagakerjaan lebih bijak menyikapi aksi mogok kerja dan mau duduk bersama menyelesaikan permasalahan. "Kami belum melihat ada upaya dari pemerintah untuk mau duduk bersama."

    Menurut Nova hal ini membuat serikat pekerja berinisiatif menghentikan aksi mogok kerja sebelum berlarut-larut dan bertentangan dengan perjuangan yang lebih besar. Yakni mengembalikan aset bangsa ke pemerintah. Salah satu tuntutan pekerja adalah pembatalan perpanjangan kontrak JICT dengan Hutchison Port Holding yang telah ditetapkan hingga tahun 2039.

    Para pekerja menilai adanya pembayaran rental fee dari JICT kepada Pelindo II sebesar USD 85 juta per tahun dinilai membuat kesejahteraan karyawan JICT menurun.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?