Pertumbuhan Ekonomi Stagnan, Indef: Akibat Konsumsi Lesu

Reporter

Solusi Ekonomi INDEF "Menangkap Peluang Banjir Dana Asing" di Veteran Coffee & Resto, Jakarta, 25 Juli 2016. TEMPO/Atika Nusya

TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh stagnan atau tak mengalami perubahan 5,01 persen di triwulan II 2017. Hal ini, kata dia, mengindikasikan perekonomian sedang dalam kondisi tidak sehat. 
 
Salah satu penyebabnya adalah konsumsi rumah tangga yang kinerjanya masih di bawah ekspektasi atau tumbuh 4,95 persen (year on year). "Angka ini terbilang rendah karena tahun lalu bisa tumbuh 5,07 persen," ujarnya, saat dihubungi Tempo, Senin, 7 Agustus 2017.

Simak: Indef Beberkan Penyebab Biaya Produksi Padi Indonesia Mahal

Padahal, konsumsi rumah tangga menjadi motor pertumbuhan ekonomi paling utama dengan kontribusi terhadap ekonomi sebesar 56 persen. "Penyebab lesunya konsumsi bisa ditelusuri dari kebijakan pemerintah yang menyesuaikan harga listrik golongan 900 VA."

Dampak tersebut kata dia telah dirasakan pada daya beli masyarakat mulai Januari hingga Juni tahun ini. Perlambatan konsumsi juga terjadi pada kelompok masyarakat atas, di mana mereka memilih untuk menunda konsumsi dan mengalihkan pendapatan ke tabungan. "Motifnya lebih ke berjaga jaga," ucapnya.

Bhima berujar dari sisi belanja pemerintah tahun ini juga tak bisa diharapkan. Penyebabnya adalah penyerapan belanja yang masih rendah dan dampak penghematan anggaran yang juga akan dirasakan di semester II 2017. "Bahkan THR dan Gaji ke-13 pun terbukti belum mampu menangkal pelemahan daya beli," katanya.

Terkait dengan kinerja sektoral, menurut Bhima perlu diperhatikan pertumbuhan industri pengolahan, di mana angkanya tercatat menurun tajam dibandigkan triwulan I sebelumnya, yaitu dari 4,24 persen menjadi 3,54 persen. "Selain itu industri pengolahan masuk ke fase deindustrialisasi dengan share industri yang terus menurun terhadap PDB," ujarnya. BPS mencatat share industri pengolahan hanya 20,26 persen, turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 21 persen.

Menurut Bhima, jika fenomena deindustrialisasi terus dibiarkan maka akan terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja secara agregat dan berakibat pada penurunan pendapatan masyarakat secara umum. Dia mengatakan harapan saat ini adalah bertumpu pada investasi dan ekspor.

"Untuk investasi bisa tumbuh 4,78 persen sudah cukup bagus ditengah ketidakpastian ekonomi global," ucapnya. Dia menuturkan untuk ekspor pertumbuhannya di atas ekspektasi yaitu mencapai 8,21 persen. Peningkatannya dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas seperti CPO dan batu bara yang naik dari awal tahun.

"Harapannya dua sektor penunjang ini bisa terus dijaga pertumbuhannya sampai akhir tahun," katanya. Hingga akhir tahun, Bhima memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran angka 5-5,1 persen (year on year) atau di bawah target pemerintah 5,2 persen (year on year). 

GHOIDA RAHMAH






Prediksi Ekonomi RI Triwulan I 2023 Tumbuh 4,9 Persen, Ini Alasan Indef

9 jam lalu

Prediksi Ekonomi RI Triwulan I 2023 Tumbuh 4,9 Persen, Ini Alasan Indef

Indef memproyeksikan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2023 tumbuh 4,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2022.


Pemerintah Diminta Jaga Permintaan Domestik Agar Ekonomi 2023 Tetap Tumbuh

18 jam lalu

Pemerintah Diminta Jaga Permintaan Domestik Agar Ekonomi 2023 Tetap Tumbuh

Pieter Abdullah Redjalam memperkirakan bahwa meskipun perekonomian global diyakini melambat, Indonesia akan tetap tumbuh tahun 2023.


BPS Sebut Industri Logam Dasar Tumbuh Paling Tinggi karena Harga Komoditas Membaik

1 hari lalu

BPS Sebut Industri Logam Dasar Tumbuh Paling Tinggi karena Harga Komoditas Membaik

BPS mengumumkan kinerja beberapa sektor unggulan atau leading sectors sepanjang tahun 2022.


Terkini: Sri Mulyani Sebut Ekonomi RI Baik-baik Saja, KPPU Mulai Usut Penjualan Bersyarat Minyakita

4 hari lalu

Terkini: Sri Mulyani Sebut Ekonomi RI Baik-baik Saja, KPPU Mulai Usut Penjualan Bersyarat Minyakita

Sri Mulyani sebut ekonomi RI baik-baik saja, KPPU mulai usut penjualan bersyarat Minyakita di daerah.


Bantah Situasi Ekonomi Indonesia 2023 Gelap, Sri Mulyani: yang Tidak Baik-baik Saja di Sana

4 hari lalu

Bantah Situasi Ekonomi Indonesia 2023 Gelap, Sri Mulyani: yang Tidak Baik-baik Saja di Sana

Menteri Keuangan Ekonomi Sri Mulyani kembali menyinggung soal kondisi perekonomian global 2023 yang diprediksi gelap gulita.


Ekonomi Indonesia Tahan Badai: Kenali Analisis Fundamental dan Cara Melakukannya

5 hari lalu

Ekonomi Indonesia Tahan Badai: Kenali Analisis Fundamental dan Cara Melakukannya

Mengutip laman Kemenkeu, fundamental ekonomi Indonesia adalah segala hal yang mendasar dan menjadi elemen yang penting dalam roda kegiatan ekonomi


Fundamental Ekonomi Indonesia, Arti dan Indikator yang Mempengaruhi

5 hari lalu

Fundamental Ekonomi Indonesia, Arti dan Indikator yang Mempengaruhi

Kata fundamental juga sering digunakan dalam kehidupan, bahkan ada istilah analisis fundamental. Bagaimana fundamental ekonomi Indonesia?


65 Persen Dana Pensiun BUMN Bermasalah, Indef: Menteri Harus Tahu Aliran Investasi

8 hari lalu

65 Persen Dana Pensiun BUMN Bermasalah, Indef: Menteri Harus Tahu Aliran Investasi

Agus Herta Sumarto mengatakan Erick Thohir harus mengetahui manajemen risiko investasi, termasuk dana pensiun, yang dilakukan perusahaan pelat merah.


Gubernur BI Sebut 3 Kata Ini yang Bikin Ekonomi Indonesia Tetap Bisa Tumbuh di 2023

8 hari lalu

Gubernur BI Sebut 3 Kata Ini yang Bikin Ekonomi Indonesia Tetap Bisa Tumbuh di 2023

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap alasan mengapa ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh pada 2023 meski di tengah ketidakpastian global.


Ekonom Sebut Gelombang PHK Perusahaan Teknologi Akan Terus Berlanjut, Ini Alasannya

17 hari lalu

Ekonom Sebut Gelombang PHK Perusahaan Teknologi Akan Terus Berlanjut, Ini Alasannya

Perusahaan teknologi melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap ribuan karyawannya awal tahun ini.