Penghasilan Rp 200 Ribu Per Bulan, Petani Emoh Tanam Kedelai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menggiling kedelai untuk bahan baku tempe di sentra industri kripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 31 Desember 2015. Menjelang malam pergantian tahun permintaan kripik tempe yang di jual mulai harga 4000 hingga 7500 rupiah tersebut meningkat hingga 3 kali lipat. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Pekerja menggiling kedelai untuk bahan baku tempe di sentra industri kripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, 31 Desember 2015. Menjelang malam pergantian tahun permintaan kripik tempe yang di jual mulai harga 4000 hingga 7500 rupiah tersebut meningkat hingga 3 kali lipat. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Subang - Petani di wilayah Jawa Barat, mayoritas tak tertarik untuk melakukan budi daya kedelai. Sebab, hasilnya, dinilai sangat jauh dari menguntungkan.

    "Penghasilan per bulannya hanya Rp 200 ribu," kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, Uneef Primadi, saat ditemui Tempo, di di Desa Sida Mulya, Subang, Jumat, 4 Agustus 2017. 

    Penghasilan petani kedelai yang empat kali lipat lebih rendah dari buruh penyapu jalan di Subang yang mencapai Rp 1 juta per bulannya itu, disebabkan mahalnya ongkos produksi yang harus dikeluarkan.

    Simak: Harga Kedelai Naik, Laba Perajin Tahu Turun 30 Persen

    Uneef mengungkapkan, ongkos produksi tanaman kedelai per hektarenya mencapai Rp 12,1 juta, adapun hasil jual produksi kedelainya per hektare hanya Rp 12,7 juta. Saat ini harga kedelai sesuai harga patokan pemerintah Rp 6.700 per kilo gram.

    Dengan begitu, margin antara ongkos produksi dengan hasil jual produksi per musim, hanya Rp 600 ribu. Angka tersebut masih harus dibagi tiga bulan selama masa tanam hingga panen, artinya, per bulan pendapatan bersih petani kedelai memang hanya Rp 200 ribu.

    Untuk mengajak petani gandrung menanam kedelai, Aneef mengaku sudah mengajukan kenaikan HPP kedelai dari Rp 6.700 menjadi Rp 8.500 per kilo gramnya. "Soal usulan kenaikan harga ituu sudah kami sampaikan kepada Pak Gubernur dan diteruskan kepada Kemendag," tuturnya.

    Kecuali kenaikan HPP, soal lain yang dipercaya dapat mendongkrak minat petani tanam kedelai yakni diberikannya subsidi benih. Sebab, benih kedelai sangat langka di kalangan petani.

    Soal minimnya petani menanam kedelai tersebut otomatis menggerus target tanam. Contohnya, target tanam tahun 2017 seluas 65 ribu hektare, capaian targetnya hingga medio akhir Juli baru tercapai 18 ribu hektare.

    Untuk mengejar target tanam, setiap dinas pertanian tanaman pangan kabupaten dan di Jawa Barat melakukan kerjasama dengan TNI. "Kami siapkan bantuan tanam kedelai seluas 38 ribu hektare," imbuh Haneef.

    Di wilayah Subang, bantahan tanam kedelai kerja sama dinas pertanian tanaman pangan, petani dan TNI tercatat 415 hektare, lahan tanamnya tersebar di Kecamatan Cipunagara, Cisalak, dan lembaga masyarakat daerah hutan (LMDH) dan Perhutani.

    "Penanganan gerakan tanam kedelai di Subang dimulai hari ini, Jumat, 4 Agustus 2017, " kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang, Jaja Rohadamaja. Tanaman kedelai sampai datang masa panen memerlukan waktu 90-100 hari.

    NANANG SUTISNA

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?