BPS: Industri Manufaktur Besar dan Sedang di Jateng Meningkat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengecat kayu bahan dasar pembuatan mebel di Manggarai, Jakarta, 23 Juni 2015. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, realisasi pertumbuhan produksi industri manufaktur kelas menengah besar sektor furnitur dan kerajinan hanya bertumbuh 0,88% pada kuartal I/2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja mengecat kayu bahan dasar pembuatan mebel di Manggarai, Jakarta, 23 Juni 2015. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, realisasi pertumbuhan produksi industri manufaktur kelas menengah besar sektor furnitur dan kerajinan hanya bertumbuh 0,88% pada kuartal I/2015. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Semarang - Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Jawa Tengah mulai meningkat. Hal itu tercatat hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah triwulan kedua atau Maret hingga akhir Juli 2017.
     
    “Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan kedua 2017
    naik 1,49 persen terhadap triwulan pertama 2017,” kata Kepala BPS Jawa Tengah Margo Yuwono, Rabu, 2 Juli 2017.
     
    Margo menyebutkan kenaikan itu terjadi setelah penurunan 1,52 persen pada triwulan pertama 2017 terhadap triwulan keempat 2016. Kenaikan pertumbuhan produksi industri besar dan sedang disumbangkan beberapa kelompok industri, di antaranya tiga dari delapan industri yang mengalami kenaikan, yaitu logam dasar naik 7,27 persen, pakaian 6,75 persen, serta kayu ataupun barang dari kayu dan gabus, serta barang anyaman rotan.

    Baca: BPS: Industri Manufaktur Mikro dan Kecil Bertumbuh 6,63 Persen
     
    “Yang terakhir, kerajinan dan sejenisnya naik 6,55 persen,” ujarnya.
     
    Sedangkan kelompok industri manufaktur yang menurun cukup besar pada triwulan kedua 2017 adalah karet serta barang dari karet dan plastik turun 6,68 persen; komputer, barang elektronik, dan optik 6,15 persen; serta makanan 5,55 persen.

    Simak: Sejak 2015, Indonesia Masuk 9 Besar Industri Manufaktur Dunia
     
    BPS mencatat, dalam lima tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di Jawa Tengah mengalami perkembangan yang bervariasi. Kecenderungan meningkatnya pertumbuhan produksi terlihat pada triwulan kedua dan keempat dari 2012 sampai 2017 terhadap triwulan sebelumnya. Kecuali triwulan empat 2013 yang turun 0,14 persen.
     
    BPS melakukan survei berdasarkan pengelompokan skala industri dengan konsep jumlah tenaga kerja, baik tetap maupun tidak tetap. Pada industri tenaga kerja, 20-99 orang dikelompokkan dalam industri sedang. “Jumlah tenaga kerja 100 orang atau lebih dikelompokkan dalam industri besar,” ucapnya.
     
    Pertumbuhan produksi industri manufaktur di Jawa Tengah itu diakui sejumlah pelaku bisnis. Mereka menilai industri di Jawa Tengah didukung aspek lapangan pembangunan berbagai kawasan dan sektor. “Di antaranya munculnya konsentrasi bisnis pabrikan dan infrastruktur di Jakarta yang beralih ke Kota Semarang dan Jawa Tengah,” kata Marketing Manager PT Asia Megawatt Asia Syelly Phie, Kamis, 27 Juli 2017.
     
    Syelly menyebutkan pertumbuhan produksi itu juga menjadi pasar bagi produsen mesin industri dalam negeri ataupun asing yang ingin berpartisipasi membantu memaksimalkan potensi bisnis pabrikan di Jawa Tengah.
     
    “Makanya, kami memfasilitasi sejumlah produk yang ditawarkan melalui Semarang Manufacturing Expo 2017 pada pertengahan Oktober mendatang," tuturnya menjelaskan.
     
    Ia menyebutkan ekspo yang digelar menawarkan peralatan teknologi pendukung mutakhir hingga proses manufacturing. Ia berharap pameran produk itu dapat membantu memaksimalkan potensi bisnis pabrikan di Semarang dan Jawa Tengah.
     
    “Tak hanya menyelenggarakan pameran, para produsen difasilitasi menggelar training produk dari merek dunia dalam industri manufaktur,” ujarnya.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.