Harga Garam Mahal, YLKI Curigai Mafia Impor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa garam milik PT Garam (persero) yang disegel di dalam gudang oleh Tim Satgas Pangan Mabes Polri di Gresik, Jawa Timur, 7 JUi 2017. Tim Satgas Pangan Mabes Polri menyegel gudang milik PT Garam (persero) dengan barang bukti 75 ribu ton garam. ANTARA FOTO

    Petugas memeriksa garam milik PT Garam (persero) yang disegel di dalam gudang oleh Tim Satgas Pangan Mabes Polri di Gresik, Jawa Timur, 7 JUi 2017. Tim Satgas Pangan Mabes Polri menyegel gudang milik PT Garam (persero) dengan barang bukti 75 ribu ton garam. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Kosumen Indonesia Tulus Abadi mempertanyakan persoalan mahalnya harga garam yang semakin mencekik konsumen. Harga garam yang semula hanya Rp 5.000 per bungkus, melonjak menjadi Rp 12.000 per bungkus.

    “Di saat kenaikan harga komoditas lain, tentu makin menambah beban pengeluaran masyarakat konsumen,” ujar Tulus dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 1 Agustus 2017.

    Baca: Harga Garam Melonjak, Perajin Ikan Asin di Tegal Tutup Sementara
     
    Tulus menilai, mahalnya harga garam telah menjadi ironi bagi Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan dan memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Seharusnya, kata Tulus, Indonesia jadi negeri dengan pasokan garam yang melimpah ruah. “Bahkan bukan hanya untuk konsumsi lokal atau nasional, tapi mampu memasok untuk kebutuhan ekspor,” ujar Tulus.
     
    Menurut Tulus, Indonesia justru menjadi negeri dengan peringkat ke-35 di dunia untuk produksi garam dengan hanya memproduksi 700 ribuan ton per tahun. Tulus menuturkan, faktor penyebab rendahnya produksi garam di Indonesia terjadi karena beberapa sebab. Pertama, lahan produksi garam tidak bertambah secara signifikan. “Bahkan di Gresik karena pertimbangan ekonomi lahan garam dikonversi menjadi lahan industri,” Tulus.
     
    Kedua, Tulus menuturkan produksi garam nasional hanya mengandalkan petani garam rakyat. Sementara di sejumlah negara dikelola dalam skala korporasi. Kemudian, alasan cuaca atau iklim selalu dijadikan pemerintah sebagai sebab gagal panen. Padahal, kata Tulus, kendala cuaca sudah di sejumlah negara  sudah bisa diatasi dengan teknologi.
     
    “Sehingga masa produksi garam lebih lama. Dengan fakta yang demikian, maka pantaslah jika 100 persen kebutuhan garam industri dengan kadar NaCl diatas 97 persen masih impor,” ujar Tulus.
     
    Tulus mencurigai mahalnya harga garam hanyalah trik untuk justifikasi menaikkan kuota impor garam. Hal tersebut terbukti pada saat Kementerian Perdagangan menyatakan mengeluarkan izin impor. Tulus menduga ada mafia garam, baik dari importir atau distributor besar, yang memanfaatkan situasi ini.
     
    “Kami mendorong pemerintah untuk mengatasi kenaikan dan kelangkaan garam dengan meningkatkan produksi garam nasional, berikan insentif pada petani garam," kata dia. Tulus mengatakan harga pangan yang terjangkau, termasuk harga garam adalah tugas dan tanggungjawab negara.
     

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.