Pemerintah Tawarkan Pengelolaan Blok East Natuna ke Investor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar (ketiga kanan) didampingi didampingi Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif  menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di gedung KPK, Jakarta, 8 Agustus 2016. Kedatangan Archandra Tahar menemui Pimpinan KPK dalam rangka melakukan kerja sama dengan KPK dalam hal transparansi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar (ketiga kanan) didampingi didampingi Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di gedung KPK, Jakarta, 8 Agustus 2016. Kedatangan Archandra Tahar menemui Pimpinan KPK dalam rangka melakukan kerja sama dengan KPK dalam hal transparansi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan menawarkan pengelolaan Blok East Natuna kepada investor. Penawaran itu dilakukan menyusul mundurnya salah satu kontraktor Blok East Natuna, Exxon, dari konsorsium pengelola ladang migas itu yang juga terdiri dari PT Pertamina dan PTT EP (Thailand).

    "Kami tawarkan ke siapa pun, ke yang berminat. Siapa pun yang berminat di East Natuna, more than welcome," kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Minggu, 30 Juli 2017.

    Exxon merupakan pemegang konsesi Blok East Natuna sejak bernama Natuna D-Alpha pada 1980. Namun, Exxon menggembalikan kontrak pengelolaan ladang migas tersebut pada 2007. Pemerintah pun menugaskan PT Pertamina mengelola Blok East Natuna yang berada di Laut Cina Selatan itu.

    Baca: Exxon Mundur dari Konsorsium Blok East Natuna

    Pada 2011, Pertamina menyepakati kesepakatan prinsip untuk membagi East Natuna kepada Exxon, Total, dan Petronas. Konsorsium bertugas mengkaji nilai keekonomian pengeboran Blok East Natuna. Pada 2016, konsorsium menciut menjadi Pertamina, Exxon, dan PTT EP.

    Pada pertengahan Juli lalu, saat kajian tersebut rampung, Exxon keluar dari konsorsium. Vice President of Public and Government Affairs Exxon Erwin Maryoto pun membenarkan perusahaannya tidak ingin melanjutkan aktivitas untuk pengelolaan Blok East Natuna.

    ADVERTISEMENT

    Simak: Penjelasan ExxonMobil Mundur dari Konsorsium Gas Natuna

    Sebenarnya, cadangan minyak di Blok East Natuna mencapai 318 juta standar tangki barel (mmstb). Potensi gasnya pun menyentuh 222 triliun kaki kubik (TCF). Tapi, gas di Blok East Natuna sulit dikembangkan karena kandungan karbon dioksidanya terhitung tinggi, yaitu 72 persen.

    Menurut Arcandra, tidak hanya Exxon yang memiliki teknologi untuk mengembangkan gas di Blok East Natuna. "Ada beberapa perusahaan. Tapi sekarang, siapa yang bisa menyediakan teknologi yang lebih murah. Kalau teknologinya mahal, tidak bisa di-develop karena 72 persen itu besar sekali."

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...