Pemerintah Akan Bentuk Tim Tata Niaga Beras Pekan Depan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah mengangkut beras di gudang beras kawasan Mardani, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah mengangkut beras di gudang beras kawasan Mardani, Jakarta, 26 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Perdagangan akan membentuk Tim Tata Niaga Beras pada Senin depan. Pembentukan Tim Tata Niaga Beras ini  bertujuan menata kembali sektor perberasan dengan memperhatikan kepentingan konsumen, pedagang, dan petani.
     
    "Bentuk tim untuk menyusun  rencana penataan beras dengan harganya dan jenisnya," kata Enggartiasto Lukita saat ditemui di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat, 28 Mei 2017.
     
    Enggar menjelaskan tim itu bertugas merumuskan kebijakan, meskipun untuk keputusan tetap berada di tangan  pemerintah. Pemerintah ingin mendapatkan masukan dari berbagai pihak dan akan didiskusikan hingga ada kesepakatan antar stakeholder sebelum aturan dikeluarkan.
     
    Menurut Enggar, pemerintah menginginkan semua pihak duduk bersama, dan merumuskan bersama sehingga ada keadilan kebijakan di sektor perberasan. Dengan demikian,  keputusan yang diambil nanti akan mengikat. 
     
    Ketika ditanyakan apakah beras yang akan diatur semua jenis, Enggar mengatakan hal itu masih baru akan dibicarakan oleh para stakeholder. Pedagang dihimbau agar jangan mengambil margin harga terlalu besar. 
     
    Tim Tata Niaga Beras nantinya  akan terdiri dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, dan pelaku usaha sektor perberasan termasuk sektor penggilingan. 
     
    Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi memastikan stok beras di pasar induk aman. Saat ini stok berada di posisi 43 ribu ton dengan batas aman 30 ribu ton. "Stok aman," tuturnya.  Ia mengakui ada penurunan beras masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang di minggu ini, dari biasanya berada pada kisaran 2.500-3.000 ton  menjadi sekitar 1.800 ton per hari.
     
    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.