Pasokan Banyak, Jumlah Kantor Kosong di Singapura Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Andy Wong

    AP/Andy Wong

    TEMPO.CO, Jakarta - Sewa kantor di Singapura turun ke level terendah dalam hampir tujuh tahun. Hal ini dampak dari suplai ruangan yang berlebih sehingga menyebabkan tingkat ruang kosong naik ke level tertinggi dalam enam tahun.

    Berdasarkan data yang dirilis Urban Redevelopment Authority (URA), instrumen yang mengukur sewa kantor turun 1,1 persen ke posisi 155,6 pada kuartal kedua, level terendah sejak September 2010.

    "Sementara itu, tingkat kekosongan naik 0,8 poin persentase menjadi 12,4 persen tertinggi sejak Juni 2011," kutip dari bisnis.com, Jumat 28 Juli 2017. Meskipun sewa menurun, sejumlah analis melihat tanda-tanda titik balik pada pasar perkantoran Singapura.

    Simak: Sri Mulyani: Singapura Siap Bahas Dana WNI Rp 600 Triliun

    Sebuah grup bisnis dikabarkan memberi penawaran senilai S$2,6 miliar (US$1,9 miliar) pada tahun 2016 untuk sebuah bidang tanah di distrik Marina Bay. Tahun lalu, sovereign wealth fund (SWF) Qatar mengakuisisi sebuah gedung perkantoran dari BlackRock Inc. dengan rekor nilai sebesar S$3,4 miliar

    Adapun, CapitaLand Commercial Trust menjual 50 persen bagian dalam One George Street kepada FWD Group, sebuah perusahaan asuransi yang didukung oleh miliarder Hong Kong Richard Li, dengan nilai S$591,6 juta.

    “Penjualan lahan kantor di Singapura baru-baru ini telah menunjukkan penawaran yang kompetitif dan pasar sewa mencapai titk rendah,” ujar Chief Executive Officer CapitaLand Commercial Trust Lynette Leong, seperti dikutip dari Bloomberg.

    Di sisi lain, data URA juga menunjukkan sewa rumah turun 0,2 persen pada kuartal kedua, sedangkan harga rumah di Singapura turun 0,1 persen, lebih kecil dari penurunan sebesar 0,3 persen dalam data pendahuluan yang dirilis pada 3 Juli.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.