Sri Mulyani Lantik Dua Staf Ahli Menteri Keuangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) dan Kepala Staf Presiden Teten Masduki (kiri) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat Sidang Kabinet Paripurna tentang RAPBN 2018 di Istana Negara, Jakarta, 24 Juli 2017. ANTARA FOTO

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) dan Kepala Staf Presiden Teten Masduki (kiri) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat Sidang Kabinet Paripurna tentang RAPBN 2018 di Istana Negara, Jakarta, 24 Juli 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melantik dua pejabat eselon I baru. Keduanya akan bertugas sebagai staf ahli menteri.

    Pejabat tersebut adalah Luky Alfirman. Dia ditugaskan sebagai Staf Ahli Bidang Kebijakan Penerimaan Negara. Sebelumnya, Luky bekerja sebagai Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.

    Pejabat lain adalah Arif Baharudin, yang ditunjuk sebagai Staf Ahli Bidang Kebijakan dan Regulasi Bidang Keuangan dan Pasar Modal. Dia sebelumnya menjabat Sekretaris Badan Kebijakan Fiskal.

    Sri Mulyani mengatakan kedua jabatan tersebut merupakan posisi strategis. "Dua bidang ini sangat penting karena banyak menjadi sorotan," katanya saat pelantikan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 28 Juli 2017. 

    Simak: Sri Mulyani Masuk Daftar Wanita Berpengaruh di Dunia Lagi 

    Menurut Sri Mulyani, bidang penerimaan banyak disorot karena berkaitan dengan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah sebagai regulator harus mampu memikirkan rancangan kebijakan penerimaan ke depan. 

    Dia mengatakan penerimaan di satu sisi harus mampu menjadi sumber daya bagi negara untuk menjalankan fungsinya, terutama untuk alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Di sisi lain, harus bereaksi terhadap dinamika perekonomian yang terjadi setiap hari.

    Sementara bidang keuangan penting diperhatikan karena berperan sebagai tulang punggung perekonomian. "Pendalaman sektor keuangan kita jauh tertinggal," ujarnya. Dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih tertinggal dari sisi rasio pendapatan domestik bruto (PDB) dengan lending dan kapitalisasi. 

    Sri Mulyani mengatakan masa sekarang merupakan masa menantang. "Ini masa di mana Kementerian Keuangan sebagai pembuat kebijakan dan pengelola keuangan negara akan terus mendapat tantangan yang perlu diimbangi dari sisi otak dan otot," katanya.

    Dia berharap kedua pejabat baru ini tidak hanya menunggu instruksi menteri, tapi juga berkreasi dan memiliki inisiatif. "Kalau nunggu penugasan dari menteri terus, tidak mungkin, karena menterinya bekerja 24 jam untuk isu yang terus-menerus masuk," ujarnya. 

    Sri Mulyani mengatakan seluruh jajaran Kementerian Keuangan perlu terus membuat lembaga tersebut menjadi organisasi yang dinamis. Kementerian Keuangan harus penuh dengan konten pengetahuan dan pengalaman yang bisa dibagikan, tak hanya untuk seluruh jajaran internal, tapi juga masyarakat. 

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.