Sengkarut Beras Maknyuss, Menteri Amran dan Terjunnya Saham AISA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. TEMPO/Charisma Adristy

    Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian menyegel kantor PT Indo Beras Unggul (IBU), produsen beras Maknyuss dan cap Ayam Jago, Kamis malam 20 Juli 2017, lalu. Alasannya. perusahaan menjual beras IR64 dengan harga mahal. Padahal IR64 adalah beras medium bersubsidi dibandrol Rp 9.000 per kilogram.

    Selain itu, anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (TPSF) dituding menimbun 1.116 ton beras hasil oplosan yang siap dipasarkan. "Beras siap edar itu dikemas dalam paket 5 kilogram, 10 kilogram, dan 25 kilogram," ujar Juru Bicara Mabes Polri Rikwanto, Jumat 21 Juli 2017. Menurut dia, PT IBU melanggar Pasal 382 KUHP tentang Perbuatan Curang dalam Usaha dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

    Baca: Beras Maknyuss, Ombudsman Soroti Pelanggaran Tim Satgas Pangan  

    Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan disparitas harga jual beras produksi IBU tinggi sekali. Seharusnya beras dijual ke konsumen seharga Rp 9.000 per kilogram, tapi IBU menjualnya Rp 13.700 dan Rp 20.400 per kilogram. Karena membeli dengan harga tinggi, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan memicu praktik monopoli dan membunuh penggilingan kecil.

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan pemerintah memberikan subsidi pertanian cukup besar dalam APBN. Saat ini ada dua subsidi yang diberikan pemerintah, yakni subsidi input dan output. Subsidi input terdiri atas bantuan benih sebesar Rp 1,3 triliun dan pupuk Rp 31,2 triliun. Sedangkan subsidi output diberikan dalam bentuk harga untuk “beras sejahtera” (rastra) sebesar Rp 19,8 triliun.

    Simak: Soal Beras Maknyuss, Said Didu: Pemerintah Salah Paham Soal HPP  

    Subsidi yang diberikan pemerintah, kata Amran, bertujuan agar produksi pakan bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga terjangkau. “Masalahnya, ada yang mencari untung dengan melakukan disparitas harga. Ini yang tidak boleh,” ujarnya. "Harga acuan beras di petani Rp 7.300 per kilogram, tapi dijual Rp 13-20 ribu per kilogram. Kalau mereka menjual sesuai dengan harga acuan pemerintah, tidak ada masalah. Dari disparitas harga itu, berapa keuntungan yang mereka raup? Beras beras Maknyuss salah satu produk PT IBU.

    Kode AISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.