APTRI Dukung Lelang Online Cegah Rembesan Gula Rafinasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani tebu se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia berunjukrasa di depan gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (17/9). Dengan delapan pabrik gula rafinasi yang telah ada, produksi gula sudah melebihi kebutuhan industri makanan dan minuman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Petani tebu se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia berunjukrasa di depan gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (17/9). Dengan delapan pabrik gula rafinasi yang telah ada, produksi gula sudah melebihi kebutuhan industri makanan dan minuman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Ketua Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan, pihaknya menyetujui pelaksanaan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16 Tahun 2017 tentang aturan penjualan gula rafinasi secara online. Menurut dia, hal itu dapat menjadi solusi untuk mencegah rembesan gula rafinasi dan membatasi impor.

    Baca: Gula Rafinasi Bocor ke Pasar, Mendag Ancam Cabut ...

    “Itu kami juga setuju. Karena dengan lelang bersama itu gula rafinasi bisa terkontrol harganya, dengaan catatan harganya jangan di bawah HPP,” tutur Soemitro dalam Rapat Kerja Nasional di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Juni 2017.

    Menurut Soemitro, banyaknya rembesan gula rafinasi di beberapa daerah yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa ada kelebihan jumlah gula yang diimpor sehingga mekanisme di dalam perdagangan gula rafinasi perlu dibenahi. Dengan adanya aturan baru tersebut menjadikan kemasan gula rafinasi memiliki e-barcode, sehingga apabila ada kebocoran, dengan mudah dapat diketahui siapa pemilik gula tersebut. Karena itu APTRI juga mengusulkan adanya pembatasan impor sesuai kebutuhan dan mendukung lelang rafinasi secara online dapat segera dilaksanakan.

    “Paling tidak itu akan mudah diketahui bila di pasar terjadi rafinase. Yang dulu, siapa yang ingin beli gula rafinase siapa yang jual, kita bertemu di pasar. Tapi di sini, akan diketahui dari e barcode, gula ini keluar dari pabrik , siapa yang beli, itu tahu,” tutur Soemitro

    Menurut Soemitro, yang terjadi di lapangan saat ini, gula rafinase yang beredar tidak hanya dijual oleh pemilik pabrik rafinase. Namun juga oleh industri makanan dan minuman di mana mereka memasarkan gulanya langsung ke pasar.

    Baca: Skema Lelang Gula Rafinasi Ditunda, Begini Respons ...

    “Anda bayangkan kalau gula itu rafinase dibeli Rp 8.000 ribu per kilogram, dijual Rp 9.000 aja udah untung. Dibuat kue, belum tentu untung segitu. Kalau yang beli seratus ribu orang udah ketarik Rp 1 miliar. Makanya dengan pemasaran bersama kami dukung agar pedagang dapat melaksanakan dengan catatan harus HPP gula tani dinaikkan supaya gula ini enggak di bawah,” kata Soemitro.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara