Harga Komoditas Tambang Naik, IHSG Berpeluang Rebound  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih, Sandiaga Uno, resmi membuka perdagangan saham hari ini dan meluncurkan program OK OCE (One Kecamatan One Center for Entrepreneurship) Stock Center yang telah diresmikan pada April 2017 lalu di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 Juni 2017. Dalam pembukaan, Sandi berharap IHSG bisa terus naik sehingga bisa mencapai 6.100. Tempo/Tony Hartawan

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih, Sandiaga Uno, resmi membuka perdagangan saham hari ini dan meluncurkan program OK OCE (One Kecamatan One Center for Entrepreneurship) Stock Center yang telah diresmikan pada April 2017 lalu di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 Juni 2017. Dalam pembukaan, Sandi berharap IHSG bisa terus naik sehingga bisa mencapai 6.100. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis First Asia Capital, David Sutyanto, mengatakan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini berpeluang berbalik menguat (rebound) di tengah pergerakan konsolidasi. IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.810-5.850.

    "Kenaikan kembali harga komoditas tambang akan berimbas positif pada perdagangan hari ini," katanya, seperti dilansir keterangan tertulis, Rabu, 19 Juli 2017. Harga komoditas tambang, seperti minyak mentah dan logam, tadi malam berhasil menguat. Harga minyak mentah naik 0,83 persen menjadi US$ 46,40 per barel. Harga nikel di London Metal Exchange naik 1 persen menjadi US$ 9730/MT.

    Sentimen positif lain datang dari laju rupiah. David menuturkan peluang penguatan rupiah akan turut menopang sentimen positif pasar di tengah kekhawatiran berlanjutnya aksi ambil untung pemodal asing di pasar saham.

    IHSG pada perdagangan kemarin tutup di 5.822,352 atau koreksi 18,928 poin. Koreksi terjadi seiring meningkatnya risiko capital outflow. Tekanan jual terutama mendominasi saham perbankan, konsumsi, dan tambang.

    Pemodal asing kembali mencatatkan penjualan bersih hingga Rp 1,07 triliun di tengah nilai transaksi di pasar reguler yang hanya mencapai Rp 4,25 triliun.

    David berujar pemodal saat ini tengah menanti rilis laba kuartal II 2017 sejumlah emiten sektoral. "Koreksi yang terjadi lebih dipicu akibat imbas sentimen eksternal," ujarnya. Salah satu yang utama adalah kekhawatiran pemodal global terhadap perkembangan pembahasan sejumlah usulan kebijakan Gedung Putih di parlemen yang selama ini dikenal sebagai kebijakan pro-growth. Perkembangan tersebut dinilai kurang menggembirakan untuk pelaku pasar dalam negeri dan laju IHSG.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?