Sri Mulyani Jelaskan Upaya Ekstra Turunkan Tingkat Kemiskinan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan kepada wartawan bersama Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin, Jaksa Agung HM Prasetyo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang usai Rapat Koordinasi Program Penertiban Impor Beresiko Tinggi di Kantor Ditjen Bea Cukai, Jakarta, 12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan kepada wartawan bersama Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin, Jaksa Agung HM Prasetyo, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang usai Rapat Koordinasi Program Penertiban Impor Beresiko Tinggi di Kantor Ditjen Bea Cukai, Jakarta, 12 Juli 2017. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perlu upaya ekstra untuk menurunkan tingkat kemiskinan menjadi di bawah 10 persen. Dia menuturkan upaya tersebut di antaranya meliputi kebijakan ekonomi pemerintah yang dikombinasikan dengan penguatan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, serta bantuan langsung untuk masyarakat miskin.

    "Makanya kombinasi dari program keluarga harapan (PKH), infrastruktur desa, dan peningkatan pendapatan petani akan sangat penting memerangi kemiskinan," ujarnya, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 18 Juli 2017.

    BacaSri Mulyani Ingin Redenominasi Rupiah Mulai Dirancang Tahun Ini

    Sri Mulyani kemudian menjelaskan tentang upaya lainnya melalui belanja infrastruktur pemerintah yang diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.

    "Sehungga memang pada masa pemerintah membelanjakan untuk proyek-proyek infrastruktur mungkin kemiskinan dan pemerataan belum langsung turun," katanya.

    Menurut dia, dampak dari pembangunan infrastruktur tersebut baru dirasakan ketika prosesnya sudah selesai seluruhnya, dan mengalir pada aktivitas perekonomian. Sri Mulyani menambahkan upaya lainnya yang juga harus digenjot adalah mengimbangi belanja infrastruktur dengan belanja sosial.

    "Ini supaya masalah kemiskinan dan kesenjangan tidak makin melebar pada saat belanja modal yang besar ini terjadi," ucapnya.

    SimakGubernur BI Akan Temui Presiden Jokowi Bahas RUU Redenominasi

    Sri Mulyani mengatakan berdasarkan data dan statistik yang ada, diperoleh indikasi bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial tidak langsung menurun secara drastis. "Mungkin ada jedanya, sekitar dua atau tiga tahun setelah ini, nanti kita akan lihat pada masa itu."

    Namun, Sri Mulyani berujar pada saat ini Presiden Joko Widodo juga telah menggariskan pengeluaran pemerintah utamanya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat miskin, yaitu melalui jaminan kesehatan nasional hingga pendidikan. "Itu semua jumlahnya cukup besar dan diharapkan dapat mengimbangi belanja pemerintah yang memang fokus pada belanja modal besar," ujarnya.

    Menurut Sri Mulyani, belanja sosial pemerintah memang tidak akan tercatat dalam neraca sebagai kenaikan modal atau aset. "Tapi modal manusia kan lebih penting daripada modal non manusia seperti infrastruktur," katanya.

    Sri Mulyani mengatakan pemerintah pun terus berupaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas belanja sosial tersebut. Namun, sistem dan persiapan yang mendukung peningkatan belanja itu juga harus dipikirkan. "Katakanlah belanja sosial naik, tapi persiapan untuk identifikasi orangnya, keluarga miskin, dan pendampingan gimana." Dia menegaskan pemerintah tak ingin asal membelanjakan, tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.